Jul 09

Dzikir Pagi dan Sore – أذكار الصباح والمساء

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ للهِ، وَالْحَمْدُ للهِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوذُبِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوذُبِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ.

“Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada ilah (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabb, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan hari tua. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan neraka dan kubur” – dibaca pada waktu pagi; adapun waktu sore membaca :

أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ للهِ، وَالْحَمْدُ للهِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا، وَأَعُوذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا، رَبِّ أَعُوذُبِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوذُبِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ.

“Kami telah memasuki waktu sore dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada ilah (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabb, aku mohon kepada-Mu kebaikan di malam ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan malam ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan hari tua. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan neraka dan kubur”

[Shahih - Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya (no. 2723), Abu Dawud (no. 5071), At-Tirmidzi (no. 3390), dan Ahmad (no. 4192); dari ‘Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu : “Adalah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk waktu sore berkata : ……, dan apabila masuk waktu pagi beliau berkata seperti itu juga : ……”].

اللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوتُ، وَإِلَيْكَ النُّشُورُ.

“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore. Dengan rahmat dan kehendak-Mu kami hidup, dan dengan rahmat dan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu kebangkitan (bagi semua makhluk)” – dibaca pada waktu pagi; adapun waktu sore membaca :

اللَّهُمَّ بِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ أَصْبَحْنَا،وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوتُ، وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ.

“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi. Dengan rahmat dan kehendak-Mu kami hidup, dan dengan rahmat dan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu tempat kembali (bagi semua makhluk)”

[Shahih – Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy adalam Al-Adabul-Mufrad (no. 1199), Abu Dawud (no. 5068), At-Tirmidziy (no. 3391), Ibnu Majah (no. 3868), Ibnu Hibban (no. 2354), Ahmad (2/354), Al-Haitsamiy (10/114), dan Al-Baghawiy (1325/5/112); dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : Bahwasannya beliau apabila masuk waktu pagi berkata : “Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi……..”].

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبَّي، لَا إلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ. أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ.

“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada ilah (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia dengan perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan (apa) yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu (yang diberikan) kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosaku kecuali Engkau” – dibaca pada waktu pagi dan sore.

[Shahih – Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shaih-nya (no. 5947), An-Nasaiy (5963), dan Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir; dari Syaddaad bin Aus radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Sayyidul-Istighfaar adalah : ……… Kemudian beliau bersabda : “Barangsiapa yang membacanya dengan yakin di waktu sore lalu ia meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk ahli surga. Dan barangsiapa yang membacanya dengan yakin di waktu pagi lalu ia meninggal sebelum masuk waktu sore, maka ia termasuk ahli surga”].

اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءًا أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ.

“Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Rabb segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersaksi tidak ada ilah (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, syaithan, dan sekutunya. Dan aku (berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan atas diriku atau mendorong seorang muslim kepadanya” – dibaca pada waktu pagi dan sore.

[Shahih – Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 3529) dan Al-Bukhari dalam Al-Adabul-Mufrad (no. 1204); dari jalan Abu Raasyid Al-Hubraaniy : Bahwasannya Abu Bakr Ash-Shiddiq radliyallaahu ‘anhu berkata : “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku apa yang hendaknya aku ucapkan ketika masuk waktu pagi dan sore ?”. Beliau bersabda : ““Ya Allah, Pencipta langit dan bumi…….”.

Al-Haafidh rahimahullah menguatkan riwayat tersebut dalam Nataaijul-Afkaar (2/345-346). Asy-Syaikh Naashir rahimahullah berkata : “Isnadnya shahih”].

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4) – سورة الإخلاص

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5) – سورة الفلق

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6) – سورة الناس

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia” (QS. Al-Ikhlash : 1-4).

“Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki” (QS. Al-Falaq : 1-5).

“Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. dari (golongan) jin dan manusia” (QS. An-Naas : 1-6).

Dibaca pada waktu pagi dan sore, masing-masing sebanyak tiga kali.

[Hasan – Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 3575), Abu Dawud (no. 5082), An-Nasa’iy (no. 5443), dan Ahmad (no. 5312); dari Mu’aadz bin ‘Abdillah bin Khubaib, dari ayahnya, bahwasannya ia berkata : “…telah bersabda Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam : “Katakanlah : ‘Qul huwallaahu ahad’ dan al-mu’awwidzatain (Al-Falaq dan An-Naas) pada waktu sore dan pagi hari sebanyak tiga kali, niscaya itu mencukupimu dari segala sesuatu“].

اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أَُشْهِدُكَ، وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ، وَمَلَائِكَتَكَ، وَجَمِيعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُكَ.

“Ya Allah, sesungguhnya aku memasuki waktu pagi, bersaksi kepada.Mu, kepada (malaikat) pemikul ‘Arsy-Mu, para malaikat-Mu, dan seluruh makhluk ciptaan-Mu, bahwasannya Engkau adalah Allah, tiada tuhan (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Engkau. (Dan bersaksi) bahwasannya Muhammad adalah hamba-Mu dan utusan-Mu” – dibaca empat kali di waktu pagi; adapun waktu sore dibaca (juga sebanyak empat kali) :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَمْسَيْتُ أَُشْهِدُكَ، وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ، وَمَلَائِكَتَكَ، وَجَمِيعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُكَ.

“Ya Allah, sesungguhnya aku memasuki waktu sore, bersaksi kepadamu, kepada (malaikat) pemikul ‘Arsy-Mu, para malaikat-Mu, dan seluruh makhluk ciptaan-Mu, bahwasannya Engkau adalah Allah, tiada tuhan (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Engkau. (Dan bersaksi) bahwasannya Muhammad adalah hamba-Mu dan utusan-Mu

[Hasan bi-syawaahidihi – Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 5069) : “Barangsiapa yang membacanya di waktu pagi hari atau sore hari : ………. niscaya Allah membebaskan seperempat bagiannya dari neraka. Barangsiapa yang membacanya dua kali, niscaya Allah akan membebaskan setengah bagiannya dari neraka. Barangsiapa yang membacanya tiga kali, niscaya Allah akan membebaskan tiga perempat bagiannya dari neraka. Dan barangsiapa yang membacanya empat kali, niscaya Allah akan membebaskannya secara keseluruhan dari neraka”. Dan bagi At-Tirmidzi (no. 3501) tidak menyebutkan jumlahnya, dan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang membacanya di waktu pagi : ………….. niscaya Allah akan memberikan ampunan padanya terhadap dosa yang ia lakukan pada siang hari itu. Dan jika ia mengatakannya pada waktu sore hari, niscaya Allah akan memberikan ampunan padanya untuk dosa yang ia lakukan pada malam hari itu”].

بِاسْمِ اللهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

“Dengan nama Allah yang tidak ada bahaya atas nama-Nya sesuatu di bumi dan tidak pula di langit. Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” – dibaca pada waktu pagi dan sore sebanyak tiga kali.

[Shahih – Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 3385), Abu dawud (no. 5088-5089), Ibnu Maajah (no. 3869), Ibnu Hibbaan dalam Shahih-nya (2352 – Al-Mawaarid) secara ringkas, dan Ahmad dalam Al-Musnad; yang seluruhnya dari jalan Abaan bin ‘Utsman bin ‘Affan, ia berkata : Aku mendengar ‘Utsman – yaitu Ibnu ‘Affan – berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang membaca (di waktu sore) : …..; niscaya ia tidak akan ditimpa musibah hingga pagi hari. Barangsiapa yang membacanya di waktu pagi sebanyak tiga kali, niscaya ia tidak akan ditimpa musibah hingga sore hari”.

Al-Albani berkata dalam Shahihul-Jaami’ (no. 5621) : “Hadits shahih”].

رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا.

“Aku ridla Allah sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabiku” – dibaca pada waktu pagi dan sore.

[Shahih – Diriwayatkan oleh An-Nasa’iy (2/57), Ahmad (3/14), Al-Baihaqiy (9/158), dan Ibnu Hibban (no. 4593); dari Abu Sa’id Al-Khudriy, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang membaca : …………..; niscaya ia masuk surga”.

Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Naashir dalam Ash-Shahiihah (no. 334) dan yang lainnya].

اللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِي مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ، فَمِنْكَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، لَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ.

“Ya Allah, nikmat yang aku terima atau diterima oleh seseorang di antara makhluk-Mu di pagi ini adalah dari-Mu. Maha Esa Engkau tidak ada sekutu bagi-Mu. Bagi-Mu segala puji dan kepada-Mu panjatan syukur (dari seluruh makhluk-Mu)” – dibaca di waktu pagi; adapun pada waktu sore dibaca :

اللَّهُمَّ مَا أَمْسَى بِي مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ، فَمِنْكَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، لَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ اشُّكْرُ.

“Ya Allah, nikmat yang aku terima atau diterima oleh seseorang di antara makhluk-Mu di sore ini adalah dari-Mu. Maha Esa Engkau tidak ada sekutu bagi-Mu. Bagi-Mu segala puji dan kepada-Mu panjatan syukur (dari seluruh makhluk-Mu)”.

[Hasan – Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 5073) dan Ibnu Hibbaan (no. 2361); dari ‘Abdullah bin Ghannaam : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang membaca pada waktu pagi : …….; sungguh ia telah menunaikan rasa syukurnya pada hari/siang itu. Dan barangsiapa yang membacanya seperti itu di waktu sore, sungguh ia telah menunaikan rasa syukurnya di waktu malam itu”.

Dihasankan oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Syarh Al-Adzkaar (3/107). Dihasankan pula oleh Asy-Syaikh Ibnu Baaz sanadnya. Lihat Tuhfatul-Akhyaar (hal. 24)].

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَى وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ، وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي، وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي.

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebajikan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku, dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, jagalah aku dari depan, belakang, sebelah kanan, sebelah kiri, dan sebelah atasku. Aku berlindung dengan segala kebesaran/keagungan-Mu agar aku tidak disambar dari bawahku” – dibaca pada waktu pagi dan sore.

[Shahih – Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 5074, Ahmad dalam Al-Musnad (2/25), Ibnu Maajah (no. 3871), Ibnu Hibbaan dalam Shahih-nya (no. 2356), Al-Haakim (1/517), dan An-Nasa’iy (8/282) secara ringkas; dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata : “Tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wwa sallam pernah meninggalakan kalimat-kalimat di sore dan pagi hari : …….”.

Dishahihkan oleh Al-Haakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabiy. Al-Haafidh berkata dalam Al-Amaaliyul-Adzkaar : “Hadits hasan” - sebagaimana dalam Al-Futuuhaat Ar-Rabbaaniyyah oleh Ibnu ‘Allaan (3/108). Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Naashir dalam Shahih Al-Mawaarid (2/424/2356) dan yang lainnya].

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

“Tidak ada ilah (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” – dibaca pada waktu pagi dan sore.

[Shahih – Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 5077), Ibnu Maajah (2/1272/3867), Ahmad dalam Al-Musnad (3/60), dan An-Nasa’iy dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah (no. 27); dari Abul-‘Abbas Az-Zuraqiy : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Barangsiapa yang membaca di waktu pagi :…………….; maka baginya pahala seperti membebaskan budak dari keturunan Isma’il, ditulis baginya sepuluh kebaikan, dihapus baginya sepuluh kejelekan, diangkat baginya sepuluh derajat, dan ia berada dalam penjagaan (Allah) dari gangguan syaithan hingga sore hari. Dan barangsiapa yang membacanya di waktu sore hari, maka baginya hal yang semisal hingga pagi hari”].

يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ، بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا.

“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb yang berdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan. Perbaikilah segala urusanku dan jangan serahkan kepadaku sekalipun sekejap mata selamanya (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu)” – dibaca pada waktu pagi dan sore.

[Hasan – Diriwayatkan oleh Al-Haakim (1/545) dan Ibnus-Sunniy (no. 48); dari Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada Fathimah : “Apa yang menghalangimu untuk mendengarkan apa yang aku wasiatkan dengannya ? Hendaknya engkau membaca ketika memasuki waktu pagi dan sore hari : …………….”. Al-Haakim berkata : “Shahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim”. Dan disepakati oleh Adz-Dzahabiy. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Naashir dalam Shahih At-Targhiib wat-Tarhiib (1/417/661)].

أَعُوذُ بِاللهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيمِ – اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Aku belindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari gangguan syaithan yang terkutuk – Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah dengan benar) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa ijin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar” – ayat Kursiy (QS. Al-Baqarah : 256) – dibaca pada waktu pagi dan sore.

[Shahih – Diriwayatkan oleh An-Nasa’iy dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah (no. 960) dan Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir (541); dari Ubay bin Ka’b : Bahwasannya seorang jin berkata padanya : ‘…. ; barangsiapa yang membacanya di waktu pagi ia akan dilindungi oleh Allah dari gangguan kami hingga sore hari’. Ketika tiba waktu pagi, ia mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan kemudian ia ceritakan perihal tersebut, dan beliau kemudian bersabda : “Al-Khabiits (syaithan) itu telah benar”].

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

“Tidak ada ilah (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Yang menghidupkan dan mematikan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” – dibaca pada waktu pagi dan sore sebanyak sepuluh kali.

[Shahih – Diriwayatkan oleh Ahmad (5/420) dan Ath-Thabaraniy (no. 3883); dari Abu Ayyuub Al-Anshariy radliyallaahu ‘anhu, bahwasannya ia berkata : - dan waktu itu ia sedang berada di negeri Romawi - : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Barangsiapa yang membaca di waktu pagi : …………………..; Allah akan menulis baginya sepuluh kebaikan, menghapus darinya sepuluh kejelekan, menjadikan baginya sebanyak sepuluh pengawasan, Allah akan melindunginya dari gangguan syaithan. Dan barangsiapa yang membacanya di waktu sore, maka baginya hal yang serupa”.

Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Naashir dalam Ash-Shahiihah (no. 2563)].

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ.

“Maha Suci Allah, aku memuji-Nya sebanyak makhluk-Nya, sejauh keridaan-Nya, seberat timbangan ‘Arsy-Nya, dan sebanyak kalimat-Nya” – dibaca pada waktu pagi sebanyak tiga kali.

[Shahih – Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2090), Abu Dawud (no. 1503), At-Tirmidziy (no. 3555), An-Naa’iy (no. 1351), dan Ibnu Maajah (no. 3808); dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma, ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam keluar dari rumah Juwairiyyah – dan dulu ia bernama Barrah, dan kemudian beliau mengganti namanya – yang pada waktu itu ia (Juwairiyyah) sedang beribadah di tempat shalatnya. Beliau kembali dan ia masih berada di tempat shalatnya. Maka beliau bersabda : “Apakah engkau senantiasa berada di tempat shalatmu seperti ini ?”. Ia menjawab : “Ya”. Beliau bersabda : “Sungguh aku telah membaca empat kalimat sebanyak tiga kali setelah aku keluar tadi, yang jika ditimbang dengan apa yang engkau baca niscaya akan sebanding :…………..”].

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا الْيَومِ فَتْحَهُ، وَنَصْرَهُ، وَنُورَهُ، وَبَرَكَتَهُ، وَهُدَاهُ، وَأَعُوذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيهِ، وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ.

“Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, Rabb seluruh alam. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan hari ini, rizkinya, kemenangannya, cahayanya, keberkahannya, dan petunjuknya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan apa-apa yang terdapat di dalamnya, dan kejahatan sesudahnya” – dibaca pada waktu pagi; adapun pada waktu sore membaca :

أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ فَتْحَهَا، وَنَصْرَهَا، وَنُورَهَا، وَبَرَكَتَهَا، وَهُدَاهَا، وَأَعُوذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيهَا، وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا.

“Kami telah memasuki waktu sore dan kerajaan hanya milik Allah, Rabb seluruh alam. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan malam ini, rizkinya, kemenangannya, cahayanya, keberkahannya, dan petunjuknya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan apa-apa yang terdapat di dalamnya, dan kejahatan sesudahnya”.

[Hasan – Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 5084), dari Abu Maalik Al-Asy’ariy, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila salah seorang di antara kalian masuk waktu pagi, hendaklah ia membaca : ‘……………., kemudian jika ia masuk waktu sore, hendaklah ia membaca hal yang semisal”.

Dihasankan oleh Asy-Syaikh Naashir dalam Shahiihul-Jaami’ (no. 352)].

اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ.

“Ya Allah, selamatkanlah tubuhku (dari penyakit dan dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah pendengaranku (dari penyakit dan maksiat atau dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah penglihatanku, tidak ada ilah (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Engkau. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefaqiran. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tidak ada ilah (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Engkau” – dibaca pada waktu pagi dan sore sebanyak tiga kali.

[Hasan – Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 5090) dari ‘Abdurrahman bin Abi Bakrah, bahwasannya ia berkata kepada ayahnya : “Wahai ayahku, sesungguhnya aku mendengarmu berdoa setiap pagi hari : ………………, sebanyak tiga kali dan di waktu sore hari sebanyak tiga kali pula”. Maka Abu Bakrah berkata : “Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdoa dengannya, dan aku senang untuk beramal dengan sunnah beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam”.

Asy-Syaikh Naashir berkata dalam Shahih Sunan Abi Dawud (3/251): “Hasanul-isnaad”].

أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ الْإِسْلَامِ، وَكَلِمَةِ الْإِخْلَاصِ، وَدِينِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ، وَمِلَّةِ أَبِينَا إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ.

“Di waktu pagi kami berada di atas fithrah agama Islam, kalimat ikhlash, agama Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan agama ayah kami, Ibrahim, yang berdiri di atas jalan yang lurus, muslim, dan tidak tergolong orang-orang musyrik” – dibaca pada waktu pagi.

[Shahih – Diriwayatkan oleh An-Nasa’iy dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah (no. 343), Ahmad dalam Al-Musnad (3/407), dan Ad-Daarimiy dalam As-Sunan (2/2688); dari ‘Abdurrahman bin Abzaa, ia berkata : “Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk waktu pagi membaca : ……………”].

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا.

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima” – dibaca pada waktu pagi.

[Shahih – Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah (no. 925) dan Ibnus-Sunniy dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah (no. 53); dari Ummu Salamah radliyallaahu ‘anhaa : “Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam membaca setelah salam shalat shubuh : ……………..”].

حَسْبِيَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ، عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ.

“Allah-lah yang mencukupi (segala kebutuhanku), tidak ada ilah (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Dia. Kepada-Nya aku bertawakal. Dan Dia adalah Rabb dari ‘Arsy yang agung” – dibaca pada waktu pagi dan sore sebanyak tujuh kali.

[Hasan – Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 5081), Ibnus-Sunniy dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah (no. 70); dari hadits Abud-Dardaa’ : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang membaca setiap hari pada waktu pagi dan sore : …………….; Allah akan mencukupkannya dari hal yang menjadi perhatiannya dari perkara dunia dan akhirat”].

أَسْتَغْفِرُ اللهَ

“Aku memohon ampun kepada Allah” – dibaca pada waktu pagi sebanyak seratus kali, dan jika lebih maka afdlal.

[Shahih – Diriwayatkan oleh Al-‘Uqailiy dalam Adl-Dlu’afaa’ (hal. 411), dan Abu Nu’aim dalam Akhbaar Ashbahaan (1/60), dari jalan Ath-Thabaraniy dengan sanad shahih; dari Abu Burdah bin Abi Musa, dari ayahnya, ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam datang dan kami waktu itu sedang duduk. Beliau bersabda : ‘Tidaklah aku berada di waktu pagi kecuali aku telah meminta ampun kepada Allah sebanyak seratus kali”.

Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Naashir dalam Silsilah Ash-Shahiihah (no. 1600) dan Shahiihul-Jaami’ (no. 5410)].

سُبْحَانَ الله

الْحَمْدُ للهِ

اللهُ أَكْبَرُ

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ.

“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, Allah Maha Besar, tidak ada ilah (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” – dibaca pada waktu pagi dan sore sebanyak seratus kali, apabila lebih maka afdlal.

[Hasan – diriwayatkan oleh An-Nasa’iy dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah (476/821), dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang membaca ‘subhaanallaah’ seratus kali sebelum terbit dan tenggelamnya matahari, maka hal itu lebih utama daripada seratus ekor onta. Barangsiapa yang membaca ‘alhamdulillah’ sebanyak seratus kali sebelum terbit dan tenggelamnya matahari, maka hal itu lebih utama daripada seratus ekor kuda yang ditunggangi fii sabilillah. Barangsiapa membaca ‘allaahu akbar’ sebanyak seratus kali sebelum terbit dan tenggelamnya matahari, maka hal itu lebih utama daripada membebaskan seratus orang budak. Dan barangsiapa yang membaca ‘laa ilaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu lahul-mulku walahul-hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai-in qadiir’ sebanyak seratus kali sebelum terbit dan tenggelamnya matahari, tidak akan datang seorang pun pada hari kiamat nanti membawa amalan yang dapat melebihi apa yang dilakukannya tersebut, kecuali orang tersebut juga membaca hal serupa melebihi jumlah yang ia baca”].

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ.

“Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya” – dibaca di waktu sore sebanyak tiga kali.

[Shahih – Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih­-nya (no. 2709) dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu bahwasannya ia berkata : “Seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan berkata : ‘Wahai Rasulullah, aku digigit kalajengking tadi malam’. Lalu beliau bersabda : ‘Jika engkau membaca di waktu sore : ………………; niscaya tidak akan ada yang membahayakanmu’].

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ

“Maha Suci Alah, aku memuji-Nya” – dibaca pada waktu pagi dan sore seratus kali, jika lebih maka afdlal.

Atau :

سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ

“Maha Suci Allah Yang Maha Agung, aku memuji-Nya” – dibaca pada waktu pagi dan sore seratus kali, jika lebih maka afdlal.

[Shahih – Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya (no. 2692), At-Tirmidziy (no. 3469), An-Nasa’iy dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah (380/568) dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Barangsiapa yang membaca pada waktu pagi dan sore hari : Subhaanallaahi wa bihamdihi’ sebanyak seratus kali, maka tidak ada seorang pun yang akan datang di hari kiamat nanti (dengan satu amalan) melebihi apa-apa yang telah ia lakukan, kecuali seseorang yang membaca hal yang serupa atau melebihinya”.

Abu ‘Isa (At-Tirmidziy) berkata : “Hadits ini adalah hasan shahih ghariib”.

Dan menurut Abu Dawud (no. 5091) dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang membaca di waktu pagi ‘subhaanallaahil-‘adhiimi wa bihamdihi’ sebanyak seratus kali, dan jika sore hari membaca hal serupa, maka tidak ada seorang pun dari makhluk-makhluk yang datang kelak (pada hari kiamat) semisal (pahala) yang ia datang dengannya”.

Dan yang semisal dengan itu dari Al-Bukhari dalam Kitaabud-Da’aawaat (no. 6042) dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang membaca ‘subhaanallaahi wabihamdihi’ setiap hari seratus kali, akan diampuni dosanya walaupun ia seperti buih lautan”].

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah berikan kebahagiaan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” – dibaca pada waktu pagi dan sore sepuluh kali.

[Shahih – Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 3190) dan Muslim (no. 406).

Diriwayatkan pula oleh Ath-Thabaraniy dengan sanad jayyid, dari Abud-Dardaa’ radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku di waktu pagi sebanyak sepuluh kali dan diwaktu sore sebanyak sepuluh kali, niscaya ia akan mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat”.

Dihasankan oleh Asy-Syaikh Naashir dalam Shahiihul-Jaami’ Ash-Shaghiir (no. 6233)].

[Diambil dari buku Adzkaarush-Shabaah wal-Masaa’ karangan Fadliilatusy-Syaikh Dr. Abu ‘Abdillah Muhammad bin Sa’id Raslaan hafidhahullah ; Adlwaaus-Salaf, Cet. Thn. 1428 H – dengan peringkasan seperlunya oleh Abu Al-Jauzaa’ Al-Bogoriy, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, istrinya, kedua orang tuanya, dan saudara-saudaranya.

NB : Dalam beberapa penghukuman status hadits, mungkin ada beberapa perbedaan dengan ulama lain. Saya sengaja membawakannya sesuai dengan yang terdapat dalam kitab tanpa disertai ta’liq ataupun takhrij tambahan].

Jul 07

Shahih Atsar Ibnu ‘Abbas : Kufrun Duuna Kufrin – Menjawab Sebagian Syubhat Takfiiriyyuun

KEDUDUKAN ‘ABDULLAH BIN ‘ABBAS radliyaallaahu ‘anhuma DALAM TAFSIR AL-QUR’AN :

عن ابن عباس قال : كنت في بيت ميمونة ابنة الحارث فوضعت لرسول الله صلى الله عليه وسلم طهوره فقال : من وضع هذا ؟ فقالت ميمونة : عبد الله ، فقال : ” اللهم فقهه في الدين وعلمه التأويل “

Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata : “Aku pernah berada di rumah Maimunah binti Al-Haarits. Maka aku ambilkan untuk Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (air) untuk bersuci (thaharah). Beliau pun bertanya : ‘Siapakah yang mengambilkan (air) ini ?’. Maimunah menjawab : ‘Abdullah’. Beliau bersabda : ‘Ya Allah, faqihkan ia dalam agama dan ajarkanlah ilmu ta’wil (tafsir) kepadanya”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (12/111-112 no. 12273), Ahmad dalam Al-Musnad (1/266, 314, 328, 335) dan Fadlaailush-Shahabah (2/995-956 no. 1856, 1859, 2/963-964 no. 1882), Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqaat (2/365), Al-Fasawiy dalam Al-Ma’rifah wat-Taariikh (1/493-494), Ath-Thabariy dalam Tahdziibul-Aatsaar (hal. 168 no. 262, hal. 169 no. 263 – Musnad Ibni ‘Abbas), Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir (10/238 no. 10587), Ibnu Hibban (15/531 no. 7055), Ibnu Abi ‘Aashim dalam Al-Ahaadiitsul-Matsaaniy (1/287 no. 380), Al-Haakim (3/534), dan Al-Baihaqiy dalam Dalaailun-Nubuwwah (6/192-193) – melalui jalan ‘Abdullah bin ‘Utsmaan bin Khutsaim. Diriwayatkan juga dari jalan Dawud bin Abi Hind oleh Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir (10/263 no. 10614) dan Ash-Shaghiir (1/197). Juga dari jalan Sulaiman Al-Ahwal oleh Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir (12/55 no. 12506) dan Al-Ausath (3/345 no. 3356) dan Abu Thaahir Adh-Dhuhliy dalam Al-Fawaaid sebagaimana terdapat dalam Al-Ishaabah (2/331). Tiga jalan tersebut (‘Abdullah bin ‘Utsmaan bin Khutsaim, Dawud bin Abi Hind, dan Sulaiman Al-Ahwal) semuanya dari jalan Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas. Hadits ini shahih dan semua perawinya adalah tsiqah.

Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya (1/169 no. 75, 7/100 no. 3756, 13/245 no. 7270) melalui jalan Khaalid, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas radliyalaahu ‘anhuma secara marfu’ dengan lafadh :

اللهم علِّمْهُ الكتاب.

“Ya Allah, ajarkanlah ia Al-Kitaab (Al-Qur’an)”.

Dalam lafadh lain : {اللهم علمه الحكمة} “Ya Allah, ajarkanlah ia Al-Hikmah”.

Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya (1/244 no. 143) sebagaimana juga Muslim dalam Shahih-nya melalui jalan ‘Abdullah bin Ziyad, dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’ dengan lafadh :

اللهم فَقِّهْهُ في الدِّين.

“Ya Allah, faqihkanlah ia dalam agama”.

Namun Muslim tanpa membawakan lafadh : “dalam agama (fid-diin)”.

Melalui jalan ‘Amr bin Dinar, dari Kuraib, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata :

أتيت رسولَ الله صلى الله عليه وسلم فدعا الله لي أن يزيدني علماً وفهماً.

“Aku mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau berdoa kepada Allah untukku agar menambahkan kepadaku ilmu dan kepahaman (dalam agama)”.

Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Fadlaailush-Shahabah (2/956 no. 1857), Al-Fasawiy dalam Al-Ma’rifah wat-Taariikh (1/518), Ath-Thabariy dalam Tahdziibul-Aatsaar (hal. 169 no. 264 – Musnad Ibni ‘Abbas), Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (1/314-315), dan Abul-Fadhl Az-Zuhriy dalam Hadiits (1/394 no. 393).

Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

وهذه الدعوة مما تحقق إجابة النبي صلى الله عليه وسلم فيها، لما علم من حال ابن عباس في معرفة التفسير والفقه في الدين رضي الله تعالى عنه.

“Doa ini merupakan satu bentuk pemastian/jaminan jawaban dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam di dalamnya, dimana beliau mengetahui keadaan Ibnu ‘Abbas atas pengetahuannya di bidang tafsir dan kefaqihannya dalam agama – radliyallaahu ta’ala ‘anhu” [Fathul-Baariy, 1/170].

Al-Haafidh Ibnu Katsir rahimahullah berkata saat menyebutkan orang yang harus dirujuk dalam penafsiran Al-Qur’an :

ومنهم الحبر البحر عبد الله بن عباس، ابن عم رسول الله صلى الله عليه وسلم، وترجمان القرآن وببركة دعاء رسول الله صلى الله عليه وسلم له حيث قال: “اللهم فقهه في الدين، وعلمه التأويل”

“Di antara mereka adalah : ‘al-habrul-bahr – ‘Abdullah bin ‘Abbas; anak paman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, turjumaanul-qur’an, dan orang yang mempunyai barakah doa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, saat beliau bersabda : ‘Ya Allah, faqihkanlah ia dalam agama, dan ajarkanlah ia ilmu ta’wil (tafsir)” [Tafsir Ibni Katsir, 1/8].

Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu berkata :

لو أن ابن عباس أدرك أسناننا ما عاشره منا أحدٌ. قال وكان يقول : نعم ترجمان القرآن ابن عباس رضي الله عنه.

“Apabila Ibnu ‘Abbas menjumpai jaman kita, niscaya tidak ada seorang pun di antara kami yang dapat menandingi (ilmu)-nya. Sebaik-baik penerjemah/penafsir Al-Qur’an adalah Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhu” [Diriwayatkan oleh Abu Khaitsamah dalam Al-‘Ilmu (no. 49), Ahmad dalam Fadlaailush-Shahabah (no. 1860, 1861, 1863), Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqaat (2/366), dan yang lainnya; shahih].

Al-Imam Mujahid bin Jabar Al-Makkiy rahimahullah berkata :

كان ابن عباس يُسَمَّى البحر من كثرة علمه.

“Ibnu ‘Abbas dinamakan Al-Bahr (samudera) karena banyaknya ilmu yang ia miliki” [Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Fadlaailush-Shahaabah (2/975 no. 1920), Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqaat (2/366), Al-Fasawiy dalam Al-Ma’rifah wat-Taariikh (1/496), dan yang lainnya; shahih].

Telah berkata Al-Imam Muhammad bin ‘Aliy bin Abi Thaalib (Muhammad bin Al-Hanafiyyah) rahimahullah pada hari meninggalnya Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma :

اليوم مات رباني هذه الأمة.

“Hari ini, telah meninggal seorang ulama rabbaniy umat ini” [Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Fadlaailush-Shahaabah (2/951 no. 1842), ‘Abbas Ad-Duuriy dalam At-Taariikh (2/315-316), Al-Haakim (3/535), dan yang lainnya; hasan].

TAFSIR ‘ABDULLAH BIN ‘ABBAS radliyallaahu ‘anhu ATAS QS. AL-MAAIDAH : 44

Allah ta’ala berfirman :

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” [QS. Al-Maaidah : 44].

Berkata Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma saat menafsirkan ayat di atas :

إنه ليس بلاكفر الذي تذهبون إليه، إنه ليس كفراً ينقل عن ملة : (وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ) كفر دون كفر.

“Sesungguhnya ia bukanlah kekufuran sebagaimana yang mereka (Khawarij) maksudkan. Ia bukanlah kekufuran yang mengeluarkan dari agama (murtad). ‘Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir’; yaitu kekufuran di bawah kekufuran (kufrun duuna kufrin)”.

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (8/20), Said bin Manshuur dalam As-Sunan (4/1482 no. 749), Ahmad dalam Al-Iimaan (4/160 no. 1419) – melalui Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah (2/736 no. 1010), Muhammad bin Nashr Al-Marwaziy dalam Ta’dhiim Qadrish-Shalah (2/521 no. 569), Ibnu Abi Haatim dalam At-Tafsiir (4/1143 no. 6364), Ibnu ‘Abdil-Barr dalam At-Tamhiid (4/237), Al-Haakim (2/313); yang kesemuanya melalui jalan Sufyan bin ‘Uyainah, dari Hisyaam bin Hujair, dari Thaawus, dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma.

Al-Haakim berkata :

هذا الحديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه.

“Hadits ini sanadnya shahih, namun tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim”.

Pernyataan ini disepakati oleh Adz-Dzahabiy. Dishahihkan pula oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shahiihah (6/113), dan beliau berkata :

أخرجه الحاكم (٢/٣١٣)، وقال : ((صحيح الإسناد)). ووافقه الذهبي، وحقهما أن يقولا : على شرط الشيخين. فإن إسناده كذلك.

Diriwayatkan oleh Al-Haakim (2/313) dan ia berkata ‘Shahiihul-isnaad’; dan hal itu disepakati oleh Adz-Dzahabi. Dan yang benar bagi mereka berdua adalah untuk mengatakan : “(Shahih) atas persyaratan Al-Bukhari dan Muslim, karena sanadnya adalah seperti itu”.

Sebagian orang ada yang melemahkan riwayat ini dengan mempermasalahkan Hisyaam bin Hujair. Di antara mereka adalah Hamud bin ‘Uqalaa Asy-Syu’aibiy, Sulaiman Al-‘Ulwaan, Abu Muhammad Al-Maqdisiy, Hasaan bin ‘Abdil-Manaan, dan yang lainnya. Adapun di Indonesia, pendla’ifan atsar Ibnu ‘Abbas ini banyak disuarakan oleh beberapa ikhwan HASMI, MMI, dan kelompok takfiriyyun Aman ‘Abdurrahman.

Berikut pembahasan tentang Hisyaam bin Hujair :

Hisyaam bin Hujair adalah perawi yang dipakai oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Yahya bin Ma’in (dalam salah satu perkataannya) telah melemahkannya, namun dalam perkataannya yang lain sebagaimana diriwayatkan oleh Ishaaq bin Manshur, ia (Ibnu Ma’in) berkata : “Shaalih”.

Yahya bin Sa’iid Al-Qaththaan pernah ditanya mengenai hadits Hisyaam bin Hujair, maka ia pun menolak untuk menceritakannya dan tidak pula meridlainya.

Sufyan bin ‘Uyainah berkata : “Kami tidak mengambil darinya kecuali apa yang tidak kami dapatkan dari selainnya”.

Al-‘Ijilliy berkata : “‘Tsiqah, shaahibus-sunnah”. Abu Haatim berkata : “Ditulis haditsnya”. Ibnu Syubrumah berkata : ‘Tidak ada di kota Makkah orang yang serupa dengannya’.

Berkata ‘Abdullah bin Ahmad dari ayahnya : “Laisa bil-qawiy (tidak kuat)’. Aku (‘’Abdullah) berkata : ‘Dia dla’if ?’. Maka ia (Ahmad bin Hanbal) berkata : ‘Ia tidaklah seperti itu (laisa bidzaaka)”.

Dalam riwayat lain dari ‘Abdullah, Ahmad bin Hanbal berkata : “Hisyaam bin Hujair, orang Makkah, dla’iiful-hadiits”.

Zakariyya bin Yahyaa As-Saajiy berkata : “Shaduuq”.

Al-‘Uqailiy memasukkannya dalam Adl-Dlu’afaa’. Begitu juga Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil fidl-Dlu’afaa’.

Ibnu Hibbaan menggolongkannya sebagai perawi tsiqah dalam Ats-Tsiqaat. Begitu pula Ibnu Syaahin dalam Ats-Tsiqaat dan Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqaat.

Berkata Adz-Dzahabiy : Tsiqah”. Berkata Ibnu Hajar : Jujur, tapi ia mempunyai beberapa kesalahan (Shaduuq, lahu auham)”.

[Selengkapnya silakan periksa : Tahdziibut-Tahdziib 4/267-268, Taqribut-Tahdziib hal. 1020 no. 7338, Miizaanul-I’tidaal 4/295 no. 9219, Tahdziibul-Kamaal 30/179-181, Al-Kaasyif 2/335 no. 5958, Al-Kaamil fidl-Dlu’afaa’ir-Rijaal 8/413-414, Adl-Dlu’afaa’ lil-‘Uqailiy hal. 1458-1459 no. 1947, Ats-Tsiqaat li-Ibni Hibbaan 7/567, Thabaqaat Ibni Sa’d 5/484, Ats-Tsiqaat li-Ibni Syaahin hal. 250 no. 1536, Kitaabul-‘Ilal wa Ma’rifaatir-Rijaal hal. 403 no. 824-825, dan yang lainnya].

Mengenai perkataan Ahmad bin Hanbal : ‘Laisa bil-qawiy’; maka ini maknanya bukan pendla’ifan. Hal itu disebabkan beliau sendiri yang mengingkari makna ini sebagai pendla’ifan dengan perkataannya : ‘laisa bidzaaka’. Oleh karena itu, maksud perkataan ini adalah bahwa Hisyaam tidaklah berada pada tingkatan shahih, namun hanya berada pada tingkatan hasan saja.

Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

وقد روى عن الإمام أحمد أنه قال: هو ضعيف ليس بالقوي لكن هذه العبارة يقصد بها أنه ممن ليس يصحح حديثه بل هو ممن يحسن حديثه وقد كانوا يسمون حديث مثل هذا ضعيفاً ويحتجون به لأنه حسن …

“Telah diriwayatkan dari Al-Imam Ahmad dimana ia berkata : ‘Ia dla’if, laisa bil-qawiy’. Akan tetapi, maksud perkataan ini adalah bahwa ia bukanlah seorang yang haditsnya berada pada tingkatan shahih, namun hanya berada tingkatan hasan. Mereka (para ulama) telah menamakan hadits yang seperti ini dengan dla’if, padahal yang mereka maksudkan dengannya adalah hasan…” [Iqaamatud-Daliil ‘alaa Ibthaalit-Tahliil oleh Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah, hal. 243].

Al-Haafidh Adz-Dzahabiy rahimahullah berkata :

وقد قيل في جَمَاعاتٍ : ليس بالقويِّ ، واحتُجَّ به . وهذا النَّسائيُّ قد قال في عِدَّةٍ : ليس بالقويّ ، ويُخرِجُ لهم في (( كتابه )) ، قال : قولُنا : (ليس بالقوي ) ليس بجَرْحٍ مُفْسِد .

“Telah dikatakan tentang sekelompok (perawi) : ‘Laisa bil-qawiy’, namun ia tetap digunakan sebagai hujjah’. An-Nasa’i telah berkata mengenai sejumlah perawi yang dihukumi dengan laisa bil-qawiy dan ia masukkan dalam kitabnya (As-Sunan) : ‘Perkataan kami mengenai ‘laisa bil-qawiy’ adalah tidak memberikan jarh yang merusakkan (kedudukannya)’ [Al-Muuqidhah fii ‘Ilmi Musthalahil-Hadiits, hal. 82].

Dalam bagian lain beliau juga berkata :

وبالا ستقراءِ إذا قال أبو حاتم : ( ليس بالقوي ) ، يُريد بها : أنَّ هذا الشيخ لم يَبلُغ درَجَة القويِّ الثَّبْت .

“Dengan menelaah/meneliti apa yang dikatakan Abu Haatim : ‘Laisa bil-qawiy’; maka yang dimaksudkan dengannya adalah orang ini tidak mencapat tingkatan (paling atas) kuat dan tetap/teguh (qawiy tsabat)” [idem, hal. 83].[1]

Lebih lanjut, ketika ‘Abdullah bin Ahmad meriwayatkan dari ayahnya dalam kitab Al-‘Ilal (hal. 403) saat beliau (Ahmad) mengatakan : “Hisyaam bin Hujair, orang Makkah, dla’iiful-hadiits” ; maka beliau melanjutkan dengan membawakan perkataan Ibnu Syubrumah : “Tidak ada orang di Makkah yang lebih faqih darinya – yaitu Hisyaam bin Hujair”.

Ini semua menunjukkan bahwa Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah tidak mendla’ifkan (secara mutlak) Hisyaam bin Hujair sehingga riwayat darinya dihukumi mardud (tertolak) sebagaimana perkiraan sebagian orang yang hanya mencermati sebagian perkataan beliau saja.

Adapun jarh Yahya bin Ma’in yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Ma’in perihal Hisyaam bin Hujair bahwa ia sangat melemahkannya; maka dalam hal ini harus diperhatikan perkataannya yang lain. ‘Abdullah bin Ahmad pernah bertanya kepada Yahya bin Ma’in : “Hisyaam bin Hujair lebih engkau senangi daripada ‘Amr bin Muslim ?”. Ia menjawab : “Ya” [lihat Al-‘Ilal fii Ma’rifatir-Rijaal, hal. 1204-1205 no. 4024-4025].

Adapun ‘Amr bin Muslim, maka ternukil dua hal yang berbeda dari Yahya bin Ma’in tentangnya. Dalam riwayat Ad-Duuriy dan ‘Abdullah bin Ahmad, ia mendla’ifkannya. Adapun dalam riwayat Ibrahim Al-Junaid, Ibnu Ma’in berkata : “Laa ba’sa bihi (tidak mengapa dengannya)” [lihat Tahdziibul-Kamaal, 22/244]. Bahkan para ahli hadits telah menjelaskan tentang peristilahan Ibnu Ma’in, bahwa jika ia mengatakan laisa bihi ba’s (tidak mengapa dengannya), maka hal itu ekuivalen dengan tsiqah [lihat Ulumul-Hadiits oleh Ibnu Shalah hal. 111 dan Al-Kifaayah oleh Al-Khathiib Al-Baghdadiy hal. 60].[2] Terkait dengan ini, maka kedudukan Hisyaam bin Hujair tidaklah lebih rendah dari ‘Amr bin Muslim. Apalagi jika kita lihat riwayat lain dari Yahya bin Ma’in tentang Hisyaam yang dibawakan oleh Ishaaq bin Manshuur : “Shaalih” – dan ini merupakan satu bentuk ta’dil sebagaimana dikenal oleh para ahli hadits. Adz-Dzahabi rahimahullah berkata :

وكذا لم اذكر فيه من قيل فيه محله الصدق ولا من قيل فيه يكتب حديثه ولا من لا بأس به ولا من قيل فيه هو شيخ أو هو صالح الحديث فإن هذا باب تعديل

“Begitu juga, aku tidak menyebutkan di dalamnya orang yang dikatakan mahaluhush-shidq (tempatnya kejujuran), yuktabu hadiitsahu (ditulis haditsnya), laa ba’sa bihi (tidak mengapa dengannya), syaikh, dan shaalihul-hadiits; maka kesemuanya ini termasuk bagian dari ta’dil” [Al-Mughni fidl-Dlu’afaa’, 1/4].

Lantas bagaimana bisa diterima perkataan sebagaian kalangan yang menganggap hal ini sebagai bentuk jarh yang menjatuhkan Hisyaam ? Apalagi dilihat dari kenyataan bahwa Yahya bin Ma’in termasuk imam yang mutasyaddid dalam melakukan jarh terhadap perawi.

Oleh karena itu, atsar Ibnu ‘Abbas sebagaimana dimaksud di awal pembahasan adalah hasan – dan kemudian ia menjadi shahih dengan penguat-penguatnya.

Hisyaam bin Hujair yang meriwayatkan atsar ini dari Thaawus dari Ibnu ‘Abbas; mempunyai beberapa penguat, antara lain :

1. Dikeluarkan oleh Sufyan Ats-Tsauriy dalam Tafsir-nya (hal. 101 no. 241) :

عن عبد الله بن طاوس عن أبيه قال : قيل لابن عباس : (وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ)، قال : هي كفره، وليس كمن كفر بالله واليوم الآخر.

Dari ‘Abdullah bin Thaawus, dari ayahnya, ia berkata : Dikatakan kepada Ibnu ‘Abbas : “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” ; Ibnu ‘Abbas berkata : ‘Itu adalah kekufurannya, namun tidak seperti halnya orang yang kufur terhadap Allah dan hari akhir”.

Atsar ini shahih.

Sebagian orang menilai atsar ini ma’lul karena adanya inqitha’ (keterputusan sanad) antara Ats-Tsauri dan ‘Abdullah bin Thaawus. Ats-Tsauri tidak mendengar riwayat dari ‘Abdullah bin Thaawus, dan di antara keduanya terdapat perawi yang bernama Ma’mar bin Raasyid (sebagaimana riwayat yang akan disebutkan pada no. 2).

Ta’lil ini sama sekali tidak benar, sebab Ats-Tsauri memang telah mendengar dari ‘Abdullah bin Thaawus sebagaimana terdapat Shahih Muslim !! Sehingga tidak masalah jika satu waktu Ats-Tsauri meriwayatkan langsung dari ‘Abdullah bin Thaawus, dan di waktu lain ia meriwayatkan melalui Ma’mar bin Raasyid.

2. Diriwayatkan dari Wakii’ dan Abu Usamah, keduanya dari (Sufyaan) Ats-Tsauriy, dari Ma’mar bin Raasyid, dari ‘Abdullah bin Thaawus, dari Thaawus, dari Ibnu ‘Abbas dengan lafadh :

هي به كفر، وليس كمن كفر بالله وملائكته وكتبه ورسله.

“Hal itu dengannya adalah satu kekufuran. Namun tidak seperti orang yang kufur terhadap Allah, para malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, dan Rasul-Rasul-Nya”.

Atsar ini shahih, diriwayatkan oleh : Ahmad dalam Al-Imaan (4/158-159 no. 1414), Muhammad bin Nashr Al-Marwaziy dalam Ta’dhiimu Qadrish-Shalaah (2/521-522 no. 571-572), Ath-Thabariy dalam Tafsir-nya (6/166), dan Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah (2/734 no. 1005).

Sebagian orang menganggap bahwa riwayat yang dibawakan oleh Sufyaan Ats-Tsauri adalah mudraj. Hal ini ditunjukkan pada riwayat berikut :

Dari Ma’mar, dari Ibnu Thaawus, dari ayahnya (Thaawus), ia berkata :

سئل ابن عباس عن قوله : (وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ)، قال : هي كفر، قال ابن طاوس : وليس كمن كفر بالله وملائكته وكتبه ورسله.

Ibnu ‘Abbas pernah ditanya tentang firman Allah : ‘Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir’, maka ia menjawab : “Hal itu adalah kekufuran”. Berkata Ibnu Thaawus : “Tidak seperti orang yang kufur terhadap Allah, para malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, dan Rasul-Rasul-Nya”.

Atsar ini shahih, diriwayatkan oleh : Ahmad dalam Al-Imaan (4/160 no. 1420), Ibnu Nashr Al-Marwaziy dalam Ta’dhiimu Qadrish-Shalaah (2/521 no. 570), Ath-Thabariy dalam Tafsir-nya (6/166), Ibnu Abi Haatim dalam Tafsir-nya (4/1143 no. 6435), Wakii’ dalam Akhbaarul-Qudlaat (1/41), dan Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah (2/736 no. 1009) – semuanya dari ‘Abdurrazzaq dalam Tafsir-nya (1/191).

Mereka katakan bahwa lafadh : ‘namun tidak seperti orang yang kufur terhadap Allah, para malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, dan Rasul-Rasul-Nya’ ; adalah idraaj (sisipan/tambahan) dari perkataan ‘Abdullah bin Thaawus. Alasan mereka adalah ‘Abdurrazzaq adalah perawi yang lebih tsiqah dan mutqin dibandingkan Sufyan Ats-Tsauriy. Ibnu Rajab membawakan riwayat dalam Syarul-‘Ilal dari Ibnu ‘Askar, dari Ahmad bahwa ia berkata :

إذا اختلف أصحاب معمر فالحديث لعبد الرزاق

“Apabila shahabat-shahabat Ma’mar berselisih (mengenai riwayat Ma’mar), maka yang dipegang adalah perkataan ‘Abdurrazzaq”.

Kita jawab :

Bagaimana bisa dikatakan bahwa ‘Abdurrazzaq lebih tsiqah lagi mutqin dibanding Sufyaan Ats-Tsauriy ? Padahal beberapa bukti dari perkataan ulama menunjukkan hal sebaliknya.

Yunus bin ‘Ubaid mengatakan tidak ada seorang pun yang lebih afdlal daripada Sufyan. Wahb telah lebih mendahulukan Sufyan daripada Malik (bin Anas) dalam hal hapalan. Yahya bin Sa’id Al-Qaththaan mendahulukan Sufyaan dibandingkan Syu’bah, padahal Syu’bah di sisi Ibnul-Qaththaan adalah orang yang paling ia cintai (dalam periwayatan). Begitu ia mendahulukan Sufyaan atas diri Malik (bin Anas) – sama seperti Wahb. Ia pun diikuti oleh Abu Haatim dan Abu Zur’ah yang mendahulukan Sufyan dalam hapalan dibanding Syu’bah. Yahya bin Ma’in tidak mendahulukan siapapun di atas Sufyan di jamannya dalam hal fiqh, hadits, zuhud, dan yang lainnya. Ahmad mengatakan bahwa ia tidak mendahulukan siapapun atas diri Sufyaan di hatinya [lihat selengkapnya dalam Tahdziibut-Tahdziib 2/56-58 – biografi Sufyaan Ats-Tsauriy].

Sedangkan ‘Abdurrazzaq – sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hibban – kadangkala melakukan kekeliruan jika ia meriwayatkan dari jurusan hapalannya.

Adapun mengenai perkataan Ahmad yang dibawakan oleh Ibnu ‘Askar, maka tidak shahih dari beliau. Hal ini dikarenakan Ibnu ‘Askar (Muhammad bin Sahl bin ‘Askar) adalah seorang yang majhul. Orang ini bukanlah Ibnu ‘Askar yang disebutkan biografinya dalam Tahdziibul-Kamaal yang merupakan rijaal Muslim, At-Tirmidziy, An-Nasa’iy, dan yang lainnya[3].

Selain itu, perkataan Al-Imam Ahmad tersebut telah menyelisihi perkataan beliau yang lain yang lebih masyhur dan tsaabit. Ibnu Rajab dalam Syarhul-‘Ilal membawakan perkataan Ahmad dari riwayat Ibraahiim Al-Harbiy, dimana ia (Ahmad) mengatakan :

إذا اختلف معمر في شئ فالقول قول ابن المبارك

“Apabila Ma’mar berselisih dalam sebuah riwayat, perkataan yang dipegang adalah perkataan Ibnul-Mubaarak”.

Perkataan inilah yang kita pegang jika ada perselisihan mengenai riwayat Ma’mar.

Apalagi Sufyan Ats-Tsauri termasuk aqraan Ma’mar yang kemudian meriwayatkan darinya. Bukan ashhaab dari Ma’mar. Oleh karena itu, dalam kasus ‘Abdurrazzaq dan Sufyan Ats-Tsauriy, sangat tidak tepat jika mengkaitkan dengan perkataan Ahmad bin Hanbal. Pengunggulan riwayat ‘Abdurrazzaq atas riwayat Sufyan Ats-Tsauriy adalah keliru dalam banyak sisi.

Kesimpulannya : Shahih riwayat Ibnu ‘Abbas yang dibawakan dari jalan Sufyan Ats-Tsauri, dan tidak perlu dipertentangkan dengan riwayat ‘Abdurrazzaq.

Catatan penting :

Perkataan Ibnu ‘Abbas dalam riwayat ‘Abdurrazzaq : ‘Hal itu adalah kekufuran’ ; tidaklah dipahami bahwa beliau mengkafirkan secara mutlak setiap orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah – sebagaimana pendapat kaum takfiriyyun. Selain alasan bahwa perkataan tersebut ditafsirkan oleh perkataan beliau yang lain (yang dibawakan oleh Sufyan Ats-Tsauriy dan yang lainnya – yang tidak memutlakkan dengan kafir akbar yang mengeluarkan dari agama), juga hal itu bertentangan dengan pemahaman para ulama salaf. Al-Haafidh Ibnu Baththah Al-‘Ukbariy rahimahullah telah memasukkan perkataan Ibnu ‘Abbas dari riwayat ‘Abdurrazzaq tersebut dalam bab :

ذكر الذنوب التي تصير بصاحبها إلى كفر غير خارج به من الملّة

“Penyebutan dosa-dosa yang menyebabkan pelakunya terjerumus pada kekufuran, tanpa mengeluarkannya dari agama (murtad)” [Al-Ibaanah, 2/723].

Kita tidak berkeyakinan bahwa para takfiriyyuun itu lebih paham tentang tafsir dan ilmu para ulama salaf dibandingkan Ibnu Baththah Al-‘Ukbariy rahimahullah.

3. Diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata tentang firman Allah ta’ala : “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” :

من جحد ما أنزل الله فقد كفر. ومن أقرّ به ولم يحكم، فهو ظالم فاسقٌ.

“Barangsiapa yang mengingkari apa-apa yang diturunkan Allah, maka ia kafir. Barangsiapa yang mengikrarkannya namun tidak berhukum dengannya, maka ia dhalim lagi fasiq”.

Diriwayatkan oleh Ath-Thabariy dalam Tafsir-nya (6/166) dan Ibnu Abi Haatim dalam tafsir-nya (4/1142 no. 6426 dan 4/1146 no. 6450) dari Al-Mutsanna bin Ibraahiim Al-Aamiliy dan Abu Haatim, keduanya dari ‘Abdullah bin Shaalih, dari Mu’awiyyah bin Shaalih, dari ‘Ali bin Abi Thalhah.

Atsar ini adalah lemah karena kelemahan ‘Abdullah bin Shaalih dan Mu’awiyyah bin Shaalih. Namun ia menjadi hasan (lighairihi) dengan riwayat sebelumnya.

4. Diriwayatkan dari ‘Atha’ bin Abi Rabbah rahimahullah, bahwasannya ia berkata :

“ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون”،”ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الظالمون”،”ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الفاسقون”، قال: كفر دون كفر، وفسق دون فسق، وظلم دون ظلم.

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dhalim. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang faasiq”; (‘Atha’ berkata) : “Kekufuran di bawah kekufuran (yang mengeluarkan dari Islam), kefasiqan di bawah kefasiqan (yang mengeluarkan dari Islam), dan kedhaliman di bawah kedhaliman (yang mengeluarkan dari Islam)”.

Atsar ini shahih.

Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Iimaan (4/159-160 no. 1417 dan 4/161 no. 1422) dan Masaail Abi Dawud (hal. 209), Ath-Thabariy dalam Tafsir-nya (6/165-166), Muhammad bin Nashr Al-Marwaziy dalam ta’dhiimu Qadrish-Shalaah (2/522 no. 575), Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah (2/735 no. 1007 dan 2/736-737 no. 1011), Ibnu Abi Haatim dalam tafsir-nya (4/1149 no. 6464), serta Al-Qaadli Wakii’ dalam Akhbaarul-Qudlaat (1/43); semuanya dari jalan Sufyan Ats-Tsauriy, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’. Asy-Syaikh Al-Albaniy telah menshahihkan atsar ini dalam Silsilah Ash-Shahiihah (6/114).

Sebagian orang ada yang melemahkan atsar ini dengan alasan ‘an’anah dari Ibnu Juraij – dan ia seorang mudallis.

Kita katakan :

‘An‘anah Ibnu Juraij dari ‘Atha’ bin Abi Rabbah dihukumi muttashil bersambung. Ibnu Abi Khaitsamah membawakan satu riwayat shahih dari Ibnu Juraij, bahwa ia (Ibnu Juraij berkata) :

إذا قلت قال عطاء فأنا سمعته منه وإن لم أقل سمعت

“Apabila aku berkata : Telah berkata ‘Atha’ , maka artinya aku telah mendengarnya walau aku tidak mengatakan : Aku telah mendengar” [Tahdziibut-Tahdziib, 2/617 – biografi ‘Abdul-Malik bin ‘Abdil-‘Aziz bin Juraij Al-Umawiy].

Asy-Syaikh Al-Albani pun kemudian memberikan penegasan :

وهذه فائدة هامة جدا ، تدلنا على أن عنعنة ابن جريج عن عطاء في حكم السماع

“Ini satu faedah yang sangat besar, yang menunjukkan pada kita bahwa ‘an’anah Ibnu Juraij dari ‘Atha’ dihukumi penyimakan (sama’)” [Irwaaul-Ghaliil, 4/244].

Pernyataan di atas disanggah oleh sebagian takfiriyyuun dengan mengatakan : Al-Imam Ahmad telah mengatakan bahwa seluruh perkataan Ibnu Juraij, baik dengan redaksi : ‘telah berkata ‘Athaa’ atau ‘dari ‘Atha’ ; hanya menunjukkan bahwa Ibnu Juraij tidak mendengar dari ‘Atha’. Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu ‘Abdil-Haadiy dalam Bahrud-Damm (hal. 278).

Kita jawab :

Pertama, Al-Imam Ahmad tidak menspesifikkan siapa yang dimaksud dengan ‘Atha’ di sini ? ‘Atha’ bin Abi Rabbah ataukah ‘Atha’ bin Abi Muslim Al-Khurasaniy ? Jika dikatakan bahwa Ibnu Juraij tidak pernah mendengar sama sekali riwayat ‘Atha’ bin Abi Rabbah, maka ini keliru. Sebab, Ibnu Juraij pernah belajar (menjadi murid) di majelis ‘Atha’ bin Abi Rabbah selama beberapa tahun. Adz-Dzahabi telah menjelaskan bahwa Ibnu Juraij telah menceritakan hadits (tahdits) dari ‘Atha’ bin Abi Rabbah, Ibnu Abi Mulaikah, Naafi’, dan Thaawus [lihat Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 6/326]. Berarti, Ibnu Juraij pernah bertemu dengan ‘Atha’.

Di sini dapat diketahui bahwa yang dimaksudkan Ahmad bin Hanbal dalam perkataan di atas adalah ‘Atha’ bin Abi Muslim Al-Khurasaniy, bukan ‘Atha’ bin Abi Rabbah. Apalagi ini dikuatkan oleh pernyataan Ahmad :

ابنُ جُرَيْج أثبت الناس في عطاء.

“Ibnu Juraij adalah orang yang paling tsabt dalam riwayat yang berasal dari ‘Atha’ [Tahdziibut-Tahdziib, 2/617].

‘Atha’ di sini maksudnya adalah Ibnu Abi Rabbaah.

Dan hal yang menunjukkan maksud perkataan Ahmad bahwa yang ia lemahkan dari riwayat Ibnu Juraij dari ‘Atha’ adalah ‘Atha’ bin Abi Muslim Al-Khurasaaniy adalah kecocokannya dengan perkataan Yahya bin Sa’id Al-Qaththaan. Berkata Abu Bakr :

ورأيت في كتاب علي بن المديني سألت يحيى بن سعيد عن حديث بن جريج عن عطاء الخراساني فقال ضعيف قلت ليحيى أنه يقول أخبرني قال لا شيء كله ضعيف إنما هو كتاب دفعه إليه

“Aku melihat di kitab ‘Ali bin Al-Madiiniy : ‘Aku pernah bertanya kepada Yahya bin Sa’id tentang hadits Ibnu Juraij dari ‘Atha’ Al-Khurasaaniy. Ia pun menjawab : ‘Dla’iif’. Aku berkata kepada Yahya : ‘Sesungguhnya ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku (akhbaranii)…’. Ia berkata : ‘Tidak ada artinya. Semuanya dla’iif, karena ia hanya berasal dari kitab yang diberikan kepadanya” [Tahdziibut-Tahdziib, 2/617-618].

Kedua, Ibnu Juraij sendiri yang menegaskan bahwa ia mendengar riwayat dari ‘Atha’ bin Abi Rabbah, baik yang ia sampakan dengan shigah : aku telah mendengar (sami’tu), atau : dari (‘an). Lantas, bagaimana bisa dikatakan bahwa ia tidak mendengar dari ‘Atha’ bin Abi Rabbah ?

Ketiga, perkataan Ibnu Juraij yang menegaskan penyimakannya atas ‘Atha’ yang bersamaan dengan itu terdapat penafikan hal tersebut dari Ahmad (jika kita permisalkan untuk menerima alasan mereka bahwa ‘Atha’ di sini adalah Ibnu Abi Rabbaah); maka yang menetapkan lebih didahulukan daripada yang menafikkan (al-mutsbitu muqaddamun ‘alan-nafyi) – sebagaimana telah ma’ruf dalam ilmu ushul [Al-Ushul min ‘Ilmil-Ushuul hal. 64].

Walhasil, pelemahan mereka terhadap atsar ‘Atha’ ini pun tertolak.

Jika kita telah mengetahui keshahihan perkataan ‘Atha’ ini, maka semakin kuatlah kedudukan atsar Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma di atas. ‘Atha’ adalah murid Ibnu ‘Abbas yang menimba ilmu secara langsung kepadanya. Tidaklah terlalu berlebihan jika dikatakan penafsiran ‘Atha’ atas ayat hukum di atas merupakan ilmu yang ia peroleh dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma.

Secara keseluruhan, atsar Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhu tentang ayat hukum : kufrun duuna kufrin, hiya kufruhu wa laisa ka-man kafara billaahi wal-yaumil-aakhiri, atau hiya bihi kufrun wa laisa ka-man kafara billaahi wa malaaikatihi wa kutubihi wa rusulihi ; adalah shahih. Tidak ada ruang bagi takfiriyyuun untuk melemahkan atsar ini dan kemudian memutlakkan kekafiran pada setiap orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah tanpa melakukan perincian. Tidak ada satu pun pendahulu bagi mereka dalam hal ini.

Berikut ini adalah beberapa nukilan (tidak semua) dari para ulama salaf tentang perkataan/tafsir Ibnu ‘Abbas terhadap ayat hukum yang semakin mengokohkan pemahaman Ahlus-Sunnah dan meruntuhkan ‘aqidah ahlul-bida’ (takfiriyyun).

1. Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah,

Telah berkata Isma’il bin Sa’d dalam Suaalaat Ibni Haani’ (2/192) :

سألت أحمد: ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾، قلت: فما هذا الكفر؟ قال: “كفر لا يخرج من الملة”

“Aku bertanya kepada Ahmad tentang firman Allah : ‘Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir’. Apakah yang dimaksud kekafiran di sini ?”. Maka ia menjawab : “Kekufuran yang tidak mengeluarkan dari agama”.

Dan ketika Abu Dawud As-Sijistaaniy bertanya kepada Ahmad dalam kitab As-Suaalaat-nya (hal. 114) mengenai ayat ini, maka ia (Ahmad) menjawab dengan perkataan Thaawus sebagaimana telah disebutkan di atas.

2. Al-Imam Muhammad bin Nashr Al-Marwaziy rahimahullah.

Telah berkata dalam kitabnya Ta’dhiimu Qadrish-Shalaah (2/502) :

ولنا في هذا قدوة بمن روى عنهم من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم والتابعين؛ إذ جعلوا للكفر فروعاً دون أصله لا تنقل صاحبه عن ملة الإسلام، كما ثبتوا للإيمان من جهة العمل فرعاً للأصل، لا ينقل تركه عن ملة الإسلام، من ذلك قول ابن عباس في قوله: ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾

“Dan kami memiliki panutan dalam hal ini dengan apa yang diriwayatkan oleh para shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan tabi’iin : Yaitu ketika mereka menjadikan kekufuran itu bercabang-cabang dari pokoknya yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, sebagaimana mereka menetapkan amal cabang dari pokok iman yang tidak mengeluarkan orang yang meninggalkannya dari agama Islam. Hal itu didasari oleh perkataan Ibnu ‘Abbas atas firman Allah ta’ala : Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”.

Setelah menyebutkan atsar dari ’Atha’ (sebagaimana di atas) beliau berkata :

وقد صدق عطاء؛ قد يسمى الكافر ظالماً، ويسمى العاصي من المسلمين ظالماً، فظلم ينقل عن ملة الإسلام وظلم لا ينقل

Sungguh telah benar ’Atha’ dalam hal ini. Seorang yang kafir itu bisa disebut sebagai orang yang dhalim; dan orang yang bermaksiat dari kaum muslimin pun bisa disebut dengan orang yang dhalim. Kedhaliman (ada dua), yaitu yang dapat mengeluarkan seseorang dari agama Islam dan yang tidak mengeluarkan dari agama Islam” [Ta’dhiimu Qadrish-Shalah, 2/523].

3. Al-Imam Al-Mufassir Ibnu Jarir Ath-Thabariy rahimahullah.

Beliau berkata :

وأولـى هذه الأقوال عندي بـالصواب, قول من قال: نزلت هذه الاَيات فـي كافر أهل الكتاب, لأن ما قبلها وما بعدها من الاَيات ففـيهم نزلت وهم الـمعِنـيون بها, وهذه الاَيات سياق الـخبر عنهم, فكونها خبرا عنهم أولـى. فإن قال قائل: فإن الله تعالـى ذكره قد عمّ بـالـخبر بذلك عن جميع من لـم يحكم بـما أنزل الله, فكيف جعلته خاصّا؟ قـيـل: إن الله تعالـى عمّ بـالـخبر بذلك عن قوم كانوا بحكم الله الذي حكم به فـي كتابه جاحدين فأخبر عنهم أنهم بتركهم الـحكم علـى سبـيـل ما تركوه كافرون. وكذلك القول فـي كلّ من لـم يحكم بـما أنزل الله جاحدا به, هو بـالله كافر, كما قال ابن عبـاس…..

”Yang lebih benar dari perkataan-perkataan ini menurutku adalah adalah, perkatan orang yang mengatakan bahwa : ”Ayat ini turun pada orang-orang kafir dari Ahli Kitab, karena sebelum dan sesudah (ayat tersebut) bercerita tentang mereka. Merekalah yang dimaksudkan dalam ayat ini. Dan konteks ayat ini juga mengkhabarkan tentang mereka. Sehingga keberadaan ayat ini sebagai khabar tentang mereka lebih didahulukan”. Apabila ada yang berkata : ”Sesungguhnya Allah ta’ala menyebutkan ayat ini bersifat umum bagi setaip orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah, bagaimana engkau bisa menjadikan ayat ini khusus (berlaku pada orang Yahudi) ?”. Maka kita katakan : ”Sesungguhnya Allah menjadikan keumuman tentang suatu kaum yang mereka itu mengingkari hukum Allah yang ada dalam Kitab-Nya, maka Allah mengkhabarkan tentang mereka bahwa dengan sebab merka meninggalkan hukum Allah mereka menjadi kafir. Demikian juga bagi mereka yang tidak berhukum dengan hukum Allah dalam keadaan mengingkarinya, maka dia kafir sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ’Abbas….” [Jamii’ul-Bayaan/Tafsir Ath-Thabari, 6/166].

4. Al-Imam Ibnu Baththah Al-‘Ukbariy rahimahullah.

Dalam kitab beliau yang berjudul Al-Ibaanah 2/723 disebutkan { باب ذكر الذنوب التي تصير بصاحبها إلى كفر غير خارج به من الملّة } ”Bab : Sejumlah dosa yang mengantarkan pelakunya kepada kekufuran yang tidak mengeluarkan dari agama”.

Di antara yang disebutkan dalam bahasan bab ini adalah : { الحكم بغير ما أنزل الله} ”Berhukum dengan selain apa-apa yang diturunkan Allah”. Kemudian beliau menyebutkan atsar-atsar dari para shahabat dan tabi’in[4] bahwa (yang dimaksud kekufuran tersebut adalah) kufur ashghar yang tidak mengeluarkan (pelakunya) dari agama”.

5. Al-Haafidh Ibnu ‘Abdil-Barr Al-Andalusiy rahimahullah.

Beliau berkata :

وأجمع العلماء على أن الجور في الحكم من الكبائر لمن تعمد ذلك عالما به، رويت في ذلك آثار شديدة عن السلف، وقال الله عز وجل: ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾،﴿ الظَّالِمُونَ ﴾،﴿ الْفَاسِقُونَ ﴾ نزلت في أهل الكتاب، قال حذيفة وابن عباس: وهي عامة فينا؛ قالوا ليس بكفر ينقل عن الملة إذا فعل ذلك رجل من أهل هذه الأمة حتى يكفر بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر روي هذا المعنى عن جماعة من العلماء بتأويل القرآن منهم ابن عباس وطاووس وعطاء

”Para ulama telah bersepakat bahwa kecurangan dalam hukum termasuk dosa besar bagi yang sengaja berbuat demikian dalam keadaan mengetahui akan hal itu. Diriwayatkan atsar-atsar yang banyak dari salaf tentang perkara ini. Allah ta’ala berfirman : (Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir) , (orang-orang yang dhalim), dan (orang-orang yang fasiq) ; ayat ini turun kepada Ahli Kitab. Hudzaifah dan Ibnu ’Abbas radliyallaahu ’anhum telah berkata : ”Ayat ini juga umum berlaku bagi kita”. Mereka berkata : ”Bukan kekafiran yang mengeluarkan dari agama apabila seseorang dari umat ini (kaum muslimin) melakukan hal tersebut hingga ia kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan hari akhir. Diriwayatkan makna ini oleh sejumlah ulama ahli tafsir, diantaranya : Ibnu ’Abbas, Thawus, dan ’Atha’” [At-Tamhiid, 5/74].

وقد ضلت جماعة من أهل البدع من الخوارج والمعتزلة في هذا الباب فاحتجوا بهذه الآثار ومثلها في تكفير المذنبين، واحتجوا من كتاب الله بآيات ليست على ظاهرها مثل قوله عزّ وجل: ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾

”Dan sungguh telah sesat sekelompok ahlul-bida’ dari Khawarij dan Mu’tazillah dalam bab ini. Mereka berhujjah dengan atsar-atsar ini dan yang semisal dengannya untuk mengkafirkan orang-orang yang berbuat dosa. Mereka juga berhujjah dengan ayat-ayat Kitabullah tidak sebagaimana dhahirnya seperti firman Allah ’azza wa jalla : ”Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” [At-Tamhiid, 17/16].

6. Al-Imam Ibnul-Jauziy rahimahulah.

Beliau berkata :

أن من لم يحكم بما أنزل الله جاحداً له، وهو يعلم أن الله أنزله؛ كما فعلت اليهود؛ فهو كافر، ومن لم يحكم به ميلاً إلى الهوى من غير جحود؛ فهو ظالم فاسق، وقد روى علي بن أبي طلحة عن ابن عباس؛ أنه قال: من جحد ما أنزل الله؛ فقد كفر، ومن أقرّبه؛ ولم يحكم به؛ فهو ظالم فاسق

“(Kesimpulannya), bahwa barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah dalam keadaan mengingkari akan kewajiban (berhukum) dengannya padahal dia mengetahui bahwa Allah-lah yang menurunkannya – seperti orang Yahudi – maka orang ini kafir. Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah karena condong pada hawa nafsunya – tanpa adanya pengingkaran – maka dia itu dhalim dan fasiq. Dan telah diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas bahwa dia berkata : ‘Barangsiapa yang mengingkari apa-apa yang diturunkan Allah maka dia kafir. Dan barangsiapa yang masih mengikrarkannya tapi tidak berhukum dengannya, maka dia itu dhalim dan fasiq” [Zaadul-Masiir, 2/366].

7. Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.

Beliau berkata :

وإذا كان من قول السلف: (إن الإنسان يكون فيه إيمان ونفاق)، فكذلك في قولهم: (إنه يكون فيه إيمان وكفر) ليس هو الكفر الذي ينقل عن الملّة، كما قال ابن عباس وأصحابه في قوله تعالى: ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾ قالوا: كفروا كفراً لا ينقل عن الملة، وقد اتّبعهم على ذلك أحمد بن حنبل وغيره من أئمة السنة

”Ketika terdapat perkataan salaf : Sesungguhnya manusia itu terdapat padanya keimanan dan kemunafikan. Begitu juga perkataan mereka : Sesungguhnya manusia terdapat padanya keimanan dan kekufuran. (Kufur yang dimaksud) bukanlah kekufuran yang mengeluarkan dari agama. Sebagaimana perkataan Ibnu ’Abbas dan murid-muridnya dalam firman Allah ta’ala : ”Barangsiapa yang tidak berhukum/memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” ; mereka berkata : ”Mereka telah kafir dengan kekafiran yang tidak mengeluarkan dari agama”. Hal tersebut diikuti oleh Ahmad bin Hanbal dan selainnya dari kalangan imam-imam sunnah” [Majmu’ Al-Fatawa, 7/312].

8. Al-Imam Al-Haafidh Ibnul-Qayyim rahimahullah.

Beliau berkata :

وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم: “لا إيمان لمن لا أمانة له”. فنفى عنه الإيمان ولا يوجب ترك أداء الأمانة أن يكون كافرا كفرا ينقل عن الملة. وقد قال ابن عباس في قوله تعالى: {وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ}: ليس بالكفر الذي يذهبون إليه. وقد قال طاووس: سئل ابن عباس عن هذه الآية فقال: هو به كفر, وليس كمن كفر بالله وملائكته وكتبه ورسله. وقال أيضا: كفر لا ينقل عن الملة…..

“Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Tidak beriman orang yang tidak mempunyai amanah’. Di sini beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menafikkan darinya keimanan, namun tidaklah berkonsekuensi atas hal tersebut bagi orang yang tidak menunaikan amanat menjadi kafir dengan kekafiran yang mengeluarkannya dari agama (islam). Telah berkata Ibnu ‘Abbas atas firman Allah ta’ala : ‘Barangsiapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir’ : ‘Bahwasannya ia bukanlah kekufuran sebagaimana yang mereka (Khawarij) maksudkan’. Thaawus berkata : Ibnu ‘Abbas pernah ditanya tentang ayat ini, maka ia menjawab : ‘Itu adalah kekufurannya, namun tidak seperti halnya orang yang kufur terhadap Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan Rasul-Rasul-Nya’. Ia berkata pula : ‘Kufur yang tidak mengeluarkan dari agama’…” [Ash-Shalaah wa Ahkaamu Taarikihaa, hal 54-55].

9. Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’diy rahimahullah.

Beliau berkata :

فالحكم بغير ما أنزل الله من أعمال أهل الكفر، وقد يكون كفرً ينقل عن الملة، وذلك إذا اعتقد حله وجوازه، وقد يكون كبيرة من كبائر الذنوب، ومن أعمال الكفر قد استحق من فعله العذاب الشديد .. ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾ قال ابن عباس: كفر دون كفر، وظلم دون ظلم، وفسق دون فسق، فهو ظلم أكبر عند استحلاله، وعظيمة كبيرة عند فعله غير مستحل له

”Berhukum dengan selain yang diturunkan Allah termasuk perbuatan orang-orang kafir, kadangkala hal itu bisa mengeluarkannya dari Islam. Yang demikian itu apabila ia meyakini tentang kebolehannya. Dan kadangkala ia merupakan dosa besar, dan hal ini termasuk perbuatan orang-orang kafir yang berhak atas perbuatannya adzab yang keras….. {Barangsiapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir}, telah berkata Ibnu ’Abbas : Kekufuran di bawah kekufuran (kufur ashghar), kedhaliman di bawah kedhaliman, dan kefasiqan di bawah kefasiqan. Hal iu menjadi kedhaliman yang besar apabila menghalalkannya, dan menjadi dosa besar apabila tidak menghalalkannya” [Taisir Kariimir-Rahman, 2/296-297].

10. Asy-Syaikh ‘Abdul-‘Aziiz bin Baaz rahimahullah.

Beliau berkata :

اطلعت على الجواب المفيد القيّم الذي تفضل به صاحب الفضيلة الشيخ محمد ناصر الدين الألباني – وفقه الله – المنشور في جريدة “الشرق الأوسط” وصحيفة “المسلمون” الذي أجاب به فضيلته من سأله عن تكفير من حكم بغير ما أنزل الله – من غير تفصيل -، فألفيتها كلمة قيمة قد أصاب فيه الحق، وسلك فيها سبيل المؤمنين، وأوضح – وفقه الله – أنه لا يجوز لأحد من الناس أن يكفر من حكم بغير ما أنزل الله – بمجرد الفعل – من دون أن يعلم أنه استحلّ ذلك بقلبه، واحتج بما جاء في ذلك عن ابن عباس – رضي الله عنهما – وغيره من سلف الأمة.

ولا شك أن ما ذكره في جوابه في تفسير قوله تعالى: ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ
الْكَافِرُونَ ﴾، ﴿…الظَّالِمُونَ ﴾، ﴿ …الْفَاسِقُونَ ﴾، هو الصواب، وقد أوضح – وفقه الله – أن الكفر كفران: أكبر وأصغر، كما أن الظلم ظلمان، وهكذا الفسق فسقان: أكبر وأصغر، فمن استحل الحكم بغير ما أنزل الله أو الزنا أو الربا أو غيرهما من المحرمات المجمع على تحريمها فقد كفر كفراً أكبر، ومن فعلها بدون استحلال كان كفره كفراً أصغر وظلمه ظلماً أصغر وهكذا فسقه

“Aku telah mengetahui jawaban yang bermanfaat dan lurus dari Fadlilatusy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani – semoga Allah memberinya taufik – yang disebarkan lewat surat kabar Asy-Syarqul-Ausath dan Al-Muslimuun ketika beliau menjawab pertanyaan tentang ‘Pengkafiran Orang yang Berhukum dengan Selain Hukum Allah Tanpa Adanya Perincian”. Aku mendapatkannya sebagai suatu jawaban yang sangat berharga dan beliau telah benar dalam hal ini. Beliau – semoga Allah memberinya taufiq – telah menempuh jalan kaum mukminin serta menjelaskan bahwa tidak boleh bagi seorang di antara umat ini untuk mengkafirkan orang yang berhukum dengan selain hukum Allah hanya sekedar karena dia mengerjakannya tanpa mengetahui bahwasannya dia menghalalkan dalam hati. Beliau pun berdalil dengan apa-apa yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma dan dari salaf umat ini. Tidak diragukan lagi bahwa jawaban beliau tentang tafsir ketiga firman Allah itu (QS. Al-Maaidah : 44,45,47) sudah benar. Beliau menjelaskan – semoga Allah memberinya taufiq – bahwa kufur itu ada dua macam : kufur besar dan kufur kecil, sebagaimana kedzaliman dan kefasiqan itu ada dua : besar dan kecil. Maka barangsiapa yang menghalalkan berhukum dengan selain hukum Allah atau zina, riba, atau yang selainnya dari hal-hal yang diharamkan secara ijma’, maka dia kafir dan melakukan kufur besar (keluar dari Islam), dzalim dengan kedzaliman yang besar, serta fasiq dengan kefasiqan yang besar. Dan barangsiapa yang melakukannya tanpa ada penghalalan, maka kekafirannya adalah kufur kecil, kedzalimannya adalah kedzaliman kecil, dan demikian pula kefaiqannya.” [Asy-Syarqul-Ausath no. 6156, 12-5-1416 H].

11. Asy-Syaikh Muhammad Naashiruddin Al-Albaniy rahimahullah :

«..﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾؛ فما المراد بالكفر فيها؟ هل هو الخروج عن الملة؟ أو أنه غير ذلك؟، فأقول: لا بد من الدقة في فهم الآية؛ فإنها قد تعني الكفر العملي؛ وهو الخروج بالأعمال عن بعض أحكام الإسلام. ويساعدنا في هذا الفهم حبر الأمة، وترجمان القرآن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما، الذي أجمع المسلمون جميعاً – إلا من كان من الفرق الضالة – على أنه إمام فريد في التفسير.

فكأنه طرق سمعه – يومئذ – ما نسمعه اليوم تماماً من أن هناك أناساً يفهمون هذه الآية فهماً سطحياً، من غير تفصيل، فقال رضي الله عنه: “ليس الكفر الذي تذهبون إليه”، و:”أنه ليس كفراً ينقل عن الملة”، و:”هو كفر دون كفر”، ولعله يعني: بذلك الخوارج الذين خرجوا على أمير المؤمنين علي رضي الله عنه، ثم كان من عواقب ذلك أنهم سفكوا دماء المؤمنين، وفعلوا فيهم ما لم يفعلوا بالمشركين، فقال: ليس الأمر كما قالوا! أو كما ظنوا! إنما هو: كفر دون كفر… ».

“….Barangsiapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. Kekufuran apakah yang dimaksud dalam ayat ini? Apakah kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam ataukah tidak? Aku berkata : Kita harus teliti dalam memahami ayat ini. Dan terkadang yang dimaksud oleh ayat adalah kufur amali, yaitu melakukan beberapa perbuatan yang mengeluarkan pelakunya dari sebagian hukum-hukum Islam. Pemahaman kita ini didukung oleh Habrul-Ummah dan Penafsir Al-Qur’an Abdullah bin Abbas radliyallaahu anhuma, yang telah disepakati oleh seluruh kaum muslimin-kecuali kelompok-kelompok sesat – bahwa beliau adalah seorang imam yang tiada bandingnya dalam tafsir Alquran. Seakan-akan beliau ketika itu telah mendengar apa yang kita dengar pada hari ini bahwa disana ada sekelompok orang yang memahami ayat ini dengan pemahaman yang dangkal tanpa perincian.
Beliau berkata : Bukan seperti kekufuran yang kalian (Khawarij) maksudkan, (yaitu) bukan kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari agama”. Akan tetapi yang dimaksud adalah kufrun duna kufrin”. Mungkin yang beliau maksudkan dengan hal itu adalah kaum Khawarij yang memberontak terhadap Amirul-Mukminin Ali radliyayaallahu ‘anhu, dan termasuk akibat dari perbuatan mereka adalah tertumpahnya darah kaum mukminin, mereka melakukan perbuatan keji terhadap kaum mukminin yang tidak mereka lakukan kepada kaum musyrikin, maka beliau berkata terhadap mereka, “Bukanlah perkara itu sebagaimana yang mereka katakan dan mereka duga, akan tetapi yang dimaksud adalah kufrun duna kufrin (kekafiran yang tidak mengeluarkan dari islam)” [At-Tahdziir min Fitnatit-Takfiir, hal. 56].

12. Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimin rahimahullah.

Beliau berkata :

هذه الآية قيل إنها نزلت في اليهود وأستدل هؤلاء بأنها كانت في سياق توبيخ اليهود قال الله تعالى (إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدىً وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ فَلا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَناً قَلِيلاً وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ) وقيل إنها عامة لليهود وغيرهم وهو الصحيح لأن العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب ولكن ما نوع هذا الكفر قال بعضهم إنه كفر دون كفر ويروى هذا عن ابن عباس رضي الله عنهما وهو كقوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم (سباب المسلم فسوق وقتاله كفر) وهذا كفر دون كفر بدليل قول الله تعالى (وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ إنما المؤمنون أخوة) فجعل الله تعالى الطائفتين المقتتلتين أخوة للطائفة الثالثة المصلحة وهذا قتال مؤمن لمؤمن فهو كفر لكنه كفر دون كفر وقيل إن هذا يعني قوله تعالى (وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ) ينطبق على رجل حكم بغير ما أنزل الله بدون تأويل مع علمه بحكم الله عز وجل لكنه حكم بغير ما أنزل الله معتقدا أنه مثل ما أنزل الله أو خير منه وهذا كفر لأنه أستبدل دين الله بغيره.

“Ayat ini dikatakan (oleh sebagian ulama) turun kepada Yahudi. Mereka berdalil bahwa ayat tersebut siyaq-nya adalah teguran/celaan kepada Yahudi. Allah ta’ala berfirman : ‘Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir’. Dikatakan pula bahwa ayat tersebut umum, yaitu (turun) kepada Yahudi dan selain mereka. Inilah yang benar, karena pelajaran itu diambil dari keumuman lafadh bukan dari kekhususan sebab. Namun, macam apakah kekufuran yang dimaksudkan di sini ? Sebagian mereka mengatakan bahwa itu adalah kekufuran di bawah kekufuran (kufrun duuna kufrin). Telah diriwayatkan hal itu dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma. Hal itu seperti sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Mencaci seorang muslim adalah kefasiqan, dan memeranginya adalah kekufuran’. Ini adalah kekufuran di bawah kekufuran (kufrun duuna kufrin) dengan dalil firman Allah ta’ala : ‘Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara’ (QS. Al-Hujuraat : 9-10). Allah ta’ala menjadikan dua golongan yang saling berperang sebagai saudara bagi golongan ketiga yang mendamaikan. Peperangan seorang mukmin kepada mukmin lainnya adalah kekufuran, namun kekufuran di bawah kekufuran (kufrun duuna kufrin). Dikatakan pula, yaitu ayat : ‘Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir’ ditujukan kepada seseorang yang berhukum dengan selain yang diturunkan Allah tanpa adanya ta’wil; yang bersamaan dengan itu ia mengetahui kewajiban berhukum dengan hukum Alah ‘azza wa jalla; namun ia malah berhukum dengan selain yang diturunkan Allah dengan keyakinan bahwa hal itu seperti hukum yang diturunkan Allah, atau lebih baik dari hukm Allah; maka ini adalah kufur (akbar). Karena ia telah mengganti agama Allah dengan selainnya” [Fataawaa Nuur ‘alad-Darb, juz 2 – Maktabah Ruuhul-Islaam].

Itulah yang dapat dituliskan atas sebagian penjelasan keshahihan atsar Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma dan pemahaman para ulama salaf yang menyertainya. Banyak hal yang belum disinggung dalam tulisan ini – khususnya mengenai beberapa syubhat takfiriyyuun terkait bahasan berhukum dengan selain hukum Allah. Namun, semoga yang sedikit ini dapat menjadi saham kecil dalam rangka nasihat kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin, dan kaum muslimin pada umumnya. Dan semoga dapat berguna bagi Penulisnya dan bagi Pembaca semuanya.

Wallaahu a’lam bish-shawwaab.

[Abu Al-Jauzaa’, di suatu pagi bulan Rajab 1430 H].

Banyak mengambil faedah dari :

- Qurratul-‘Uyuun fii Tashhiih Tafsir ‘Abdilah bni ‘Abbas li-Qauli ta’ala Wa Man Lam Yahkum bi Maa Anzalallaah fa Ulaaika Humul-Kaafiruun oleh Abu Usaamah Saalim bin ‘Ied Al-Hilaliy

- Al-Hukmu bi-Ghairi Maa Anzalallaah oleh Dr. Khaalid Al-Anbariy.

- Takfiirul-Hukkaam Al-Muslimiin wal-Khuruuj ‘alaihim oleh Abu Yuunus.

- Beberapa referensi pelengkap dari buku-buku hadits, ilmu hadits, tafsir, dan yang lainnya; serta beberapa artikel internet.



[1] Namun Al-Imam Al-Bukhari memutlakkan istilah ‘laisa bil-qawiy’ dengan kedla’ifan [Al-Muuqidhah, hal. 83].

[2] Akan tetapi Al-Haafidh Al-‘Iraqiy memberikan perincian bahwa tidak boleh membawa lafadh laisa bihi ba’s kepada tsiqah dari Ibnu Ma’in kecuali ia (Ibnu Ma’in) menegaskan kesamaan dua lafadh tersebut. Wallaahu a’lam [lihat oleh Taudliihul-Afkaar Ash-Shan’aniy, 2/164].

[3] Lihat Tahdziibul-Kamaal, 25/325.

[4] Termasuk dalam hal ini atsar Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhu sebagaimana dalam bahasan.

Jul 03

Beberapa Guru Wanita Al-Haafidh Adz-Dzahabi rahimahullah

Diantara banyak hal yang belum begitu familiar di sebagian kita adalah keberadaan ulama dari kalangan wanita. Padahal dalam banyak hal, mereka turut berjasa dalam hal penyebaran ilmu hingga sampai pada kita hari ini. Tidak sedikit para ulama besar dari kaum laki-laki yang lahir atas jasa-jasa mereka. Tidak terkecuali Al-Haafidh Adz-Dzahabiy rahimahullah. Siapa yang tidak kenal dengan beliau. Beliau adalah seorang ulama besar yang menguasai beberapa cabang ilmu pengetahuan, khususnya ilmu hadits dan sejarah. Ternyata di antara daftar guru-guru beliau banyak yang berasal dari kalangan wanita.

Pada kesempatan ini, akan coba dituliskan beberapa ulama wanita yang menjadi guru Al-Haafidh Adz-Dzahabiy rahimahullah, sebagaimana yang beliau jelaskan sendiri dalam kitab Taariikhul-Islaam. Adz-Dzahabi rahimahullah berkata :

١٨٨ – فاطمة بنت الحافظ أبي القاسم علي ين الحافظ بهاء الدين أبي محمد القاسم ابن الحافظ الكبير محدث الشام أبي القاسم ابن عساكر .
أم العرب الدمشقية

ولدت سنة ثمانٍ وتسعين .
وسمعت من : عمر بن طبرزد ، وحنبل المكير ، وأبي الفتوح الجلاجلي ، وست الكتبة بنت الطرّاح ، وأبي اليمن الكندي .
وأجاز لها : أبو جعفر الصيدلاني ، ومحمد بن الفاخر ، وأبو الفتوح أسعد العجلي ، وعدة من شيوخ خراسان والعراق وإصبهان .
وكانت أصيلةً ، جليلة ، عالية الإسناد ، مُعرِقةً في الحديث ، وسماعها من عمر وحنبل في الخامسة ، ولها في السادسة أيضاً على عمر .

روى عنها : الدمياطي ، وقطب الدين بن القسطلاني ، ومحمد بن محمد الكنجي ، وابن الخباز ، وعلاء الدين ابن العطار ، وجمال الدين المزي ، وعلم الدين البرزالي ، وطائفة سواهم .
وأجازت لي مروياتها .
وتوفيت في تاسع عشر شعبان .

188 – Faathimah binti Al-Haafidh Abil-Qaasim ‘Aliy bin Al-Haafidh Bahaauddiin Abi Muhammad Al-Qaasim bin Al-Haafidh Al-Kabiir Muhaddits Asy-Syaam Abil-Qaasim Ibni ‘Asaakir, Ummul-‘Arab Ad-Dimasyqiyyah.

Dilahirkan pada tahun 598 H.

Ia telah mendengar dari : ‘Umar bin Thabarzad, Hanbal Al-Makiir, Abul-Futuuh Al-Jalaajuliy, Situul-Katabah binti Ath-Tharraah, dan Abul-Yumn Al-Kindiy.

Abu Ja’far Ash-Shaidalaaniy, Muhammad bin Faakhir, Abul-Futuuh As’ad Al-‘Ijilliy, serta sejumlah syaikh dari Khurasaan, ‘Iraaq, dan Ishbahaan telah memberikan ijin periwayatan kepadanya. Ia adalah seorang wanita bangsawan, terhormat, tinggi sanadnya, dan pengembara dalam (mencari) hadits. Penyimakannya dalam rantai periwayatan dari ‘Umar dan Hanbal ada pada tingkatan kelima, dan juga tingkatan keenam dalam rantai periwayatan lain dari ‘Umar.

Meriwayatkan darinya : Ad-Dimyaathiy, Quthbuddin Al-Qasthallaaniy, Muhammad bin Muhammad Al-Kanjiy, Ibnul-Khabbaaz, ‘Allauddin bin Al-‘Aththaar, Jamaaluddin Al-Mizziy, ‘Alimuddin Al-Birzaaliy, dan beberapa kelompok ulama lainnya.

Ia mengijinkanku (Adz-Dzahabiy) untuk meriwayatkan darinya.

Wafat pada tanggal 19 Sya’ban.

[Taarikhul-Islaam, 51/156-157]

٢٤٥ – ست العرب بنت يحيى بن قايماز .
أمُّ الخير الدمشقية .

سمعت من مولاهم التاج الكندي . وحضرت على ابن طبرزد .

وسمع منها الكبار ، وأجازت لنا مروياتها . ولها إجازة من المؤيد الطوسي ، وجماعة .
روى عنها : ابن الخباز ، وابن العطار ، والمزي ، والبرزالي ، وجماعة .
سألت المزيَّ عنها فقال : شيخة جليلة ،كثيرة السماع ، سمعت من ابن طبرزد ” الغيلانيات ” ، وغيرها . وحدثت سنين كثيرة .
قلت : ولدت في ربيع الآخر سنة تسعٍ وتسعين ، وتوفيت في التاسع والعشرين من المحرم .

245 – Sittul-‘Arab binti Yahyaa bin Qaayimaaz, Ummul-Khair Ad-Dimasyqiyyah

Ia mendengar dari maula mereka, At-Taaj Al-Kindiy; dan hadir dalam majelis ‘Aliy bin Thabarzad.

Telah mendengar darinya beberapa ulama besar, dan ia telah mengijinkan kepada kami (Adz-Dzahabiy) untuk meriwayatkan darinya. Ia mempunyai ijazah (ijin) periwayatan dari Al-Muayyid Ath-Thuusiy dan beberapa kelompok ulama lainnya.

Meriwayatkan darinya : Ibnul-Khabaaz, Ibnul-‘Athaar, Al-Mizziy, Al-Barzaaliy, dan yang lainnya.

Aku (Adz-Dzahabiy) pernah bertanya kepada Al-Mizziy perihal dirinya, maka ia menjawab : “Seorang syaikhah yang terhormat, banyak mendengarkan periwayatan, dan ia telah mendengar Al-Ghailaaniyaat dan yang lainnya dari Ibnu Thabarzad. Ia telah menceritakan/meriwayatkan hadits dalam waktu bertahun-tahun.

Aku (Adz-Dzahabi) berkata : Lahir pada bulan Rabi’ul-Akhir tahun 599, dan wafat pada tanggal 29 Muharram.

[Taariikhul-Islaam, 51/183].

٣١٤ – زينب بنت علي بن أحمد بن فضل .

الشيخة الزاهدة ، العابدة أم محمد بنت الواسطي .
ولدت ، أظن ، في سنة خمس وستمائة ، وسمعت سنة إحدى عشرة من الشيخ الموفق جزءًا سمعناه منها . وهي والدة شيخنا الشمس ابن الزراد . وكان أخوها الشيخ تقي الدين مع جلالته يقصد زيارتها والتبرك بها .
وكانت قليلة المثل ، رضي الله عنها .
توفيت في خامس المحرم .

314 – Zainab binti ‘Aliy bin Ahmad bin Fadhl.

Seorang Syaikhah yang zuhud, ahli ibadah; Ummu Muhammad binti Al-Waasithiy.

Lahir, aku kira, pada tahun 605 H. Dan ia mendengar satu juz (bagian) dari Asy-Syaikh Muwaffaq pada tahun 611 H, dan kami (Adz-Dzahabi) mendengarkankan riwayat tersebut darinya (Zainab). Ia merupakan ibu dari syaikh kami Asy-Syams Ibnuz-Zarraad; dan saudaranya (yang bernama) Asy-Syaikh Taqiyyuddin dengan segala kebesaraannya pernah mengunjunginya untuk bertabarruk melalui (ilmu yang disampaikan)nya.

Sedikit orang yang semisal dengannya – semoga Allah meridlainya.

Wafat pada tanggal 5 Muharram.

[Taariikhul-Islaam, 52/253-254]

٤٦٣ – شاه ست ابنة الشيخ شمس الدين أبي الغنائم المسلم بن محمد بن علان .
القيسي
.
ولدت في حدود سنة ثمان عشرة وستمائة .
وروت لنا عن عم أبيها مكي بن علان ، وسمعت من حموها سالم بن صصرى .
وهي والدة الإمام قاضي القضاة نجم الدين أحمد بن صصرى .
توفيت في العشرين من المحرم . وكنيتها أم أحمد . وكانت صالحة خيرة ، كثيرة البر . وكف بصرها مدة .

463 – Syaah Sittu, anak wanita dari Asy-Syaikh Syamsuddin Abul-Ghanaaim Al-Muslim bin Muhammad bin ‘Allaan Al-Qaisiy.

Lahir pada akhir tahun 618 H.

Ia meriwayatkan kepada kami (Adz-Dzahabiy) dari paman ayahnya, yaitu Makkiy bin ‘Allaan. Ia mendengar dari saudara iparnya, Saalim bin Shashraa.

Ia adalah ibu dari Al-Imam Qaadli Al-Qudlaat Najmuddin Ahmad bin Sashraa.

Wafat pada tanggal 20 Muharram. Kun-yah-nya adalah Ummu Ahmad. Ia adalah seorang wanita shalihah, murah hati/dermawan, dan banyak berbakti. Pernah kehilangan penglihatannya dalam beberapa waktu.

[Taariikhul-Islaam, 52/325].

٤٦٤ – شهدة بنت محمد بن حسان بن رافع بن سمير .
العامرية ، أمة الرحمن .

ولدت في حدود سنة ثمان وعشرين .
وسمعت من : جعفر الهمداني . وحضرت الإربلي .
وأجاز لها ابن باقا ، ومحمد بن عماد .

وسمعت أيضًا من والدها خطيب المصلى أبي عبد الله القصر حجاجي .
سمعت منها جزئين . وقد حدثت سنة نيف وستين .
توفيت في أوائل السنة .

464 – Syuhdah binti Muhammad bin Hassaan bin Raafi’ bin Samiir, Al-‘Aamiriyyah Amatur-Rahmaan.

Lahir pada akhir tahun 628 H.

Ia mendengar dari : Ja’far Al-Hamdaaniy; dan ia menghadiri (majelis) Al-Irbiliy.

Ibnu Baaqaa dan Muhammad bin Imaad memberikan ijin periwayatan kepadanya.

Ia juga mendengar riwayat dari ayahnya (yang bernama) Khathiib Al-Mushallaa Abu ‘Abdillah Al-Qashar Hajjaajiy.

Aku (Adz-Dzahabiy) mendengar darinya dua juz. Dan ia menceritakan riwayat setelah tahun 660 H.

Wafat pada awal-awal tahun.

[Taariikhul-Islaam, 52/325].

٤٦٩ – عائشة بنت المجد عيسى بن الإمام موفق الدين عبد الله بن أحمد بن محمد بن قدامة .
الصالحة ، العابدة ، المسندة ، المعمرة ، أم أحمد المقدسية ، الصالحية .
ولدت في سنة إحدى عشرة وستمائة ، وأجاز لها القاضي أبو القاسم ابن الحرستاني ، وجماعة .
وسمعت من : أبيها ، والشهاب ابن راجح ، والعز محمد بن الحافظ ، وغيرهم حضورًا .
وسمعت من جدها ، وغيره . وتفردت بأجزاء يسيرة .
وسمعت أيضًا من : البهاء عبد الرحمن ، والسراج أبي عبد الله بن الزبيدي ، والضياء المقدسي .
حدث عنها ابن الخباز في حياتها . وسمع منها عامة الطلبة : المقاتلي ، وابن النابلسي ، والمحب ، وأنا ، ويوسف الدمياطي .
توفيت في تاسع عشر شعبان . وكانت قد ثقل سمعها وما نأخذ عنها إلا بكلفة . وهي أخت الحافظ السيف .

469 – ‘Aisyah binti Al-Majd ‘Isa bin Al-Imaam Muwaffiquddin ‘Abdillah bin Ahmad bin Muhamad bin Qudamah.

Seorang wanita shaalihah, ahli ibadah, mempunyai sanad, dan panjang usianya; Ummu Ahmad Al-Maqdisiyyah Ash-Shaalihah.

Lahir pada tahun 611 H. Al-Qaadliy Abul-Qaasim bin Al-Harastaaniy dan beberapa kelompok ulama telah mengijinkan periwayatan kepadanya.

Ia mendengar dari : Ayahnya, Asy-Syihaab bin Raajih, Al-‘Izz Muhamad bin Al-Haafidh, dan yang lainnya dengan menghadiri majelisnya.

Ia mendengar dari kakeknya dan yang lainnya. Ia meriwayatnya beberapa (sedikit) juz secara menyendiri.

Ia juga mendengar dari : Bahaauddin ‘Abdurrahman, As-Siraaj Abu ‘Abdillah bin Az-Zubaidiy, dan Adl-Dlyaa’ Al-Maqdisiy.

Menceritakan (riwayat) darinya : Ibnul-Khabbaaz, saat ia masih hidup. Telah mendengar darinya para penuntut ilmu secara umum, seperti : Al-Muqaataliy, Ibnu An-Nabulusiy, Al-Muhibb, aku (Adz-Dzahabi), dan Yusuf Ad-Dimyaathiy.

Wafat pada tanggal 19 Sya’ban. Sungguh sangat berat untuk mendengarkan (riwayat)-nya, dan tidaklah kami mengambil riwayat darinya kecuali disertai kesulitan. Ia adalah saudara wanita Al-Haafidh As-Saif.

[Taariikhul-Islaam, 52/327-328].

٤٨٢ – فاخرة بنت أبي صالح عبيد الله بن عمر بن عبد الرحيم بن العجمي .
روت عن : أبي القاسم بن رواحة . ولنا منها إجازة .
توفيت بشيزر في السادس والعشرين من ربيع الآخر .

482 – Faakhirah binti Abi Shaalih ‘Ubaidillah bin ‘Umar bin ‘Abdirrahiim bin Al-‘Ajmiy.

Ia meriwayatkan dari : Abul-Qaasim bin Rawaahah. Dan kami (Adz-Dzahabiy) mendapatkan ijazah (ijin) periwayatan darinya (Faakhirah).

Wafat di Syiizar pada tanggal 26 Rabi’ul-Akhir.

[Taariikhul-Islaam, 52/334].

٥٣٤ – فاطمة بنت حسين بن عبد الله بن عبد الرحمن الآمدي ، المؤذن .
أم محمد . وأمها خديجة بنت الزين أحمد بن عبد الدائم . وهي زوجة الزاهد الشيخ علي الملقن . امرأة صالحة عابدة ، مبتلاة بالزمانة .
روت “صحيح البخاري” عن ابن الزبيدي .
وروت عن الفخر الإربلي ، وغيره .
توفيت في المحرم . سمعت منها .

534 – Faathimah binti Husain bin ‘Abdillah bin ‘Abdirrahman Al-Aamidiy Al-Muadzdzin; Ummu Muhammad.

Ibunya bernama Khadiijah binti Az-Zain Ahmad bin ‘Abdid-Daaim, istri dari Az-Zaahid Asy-Syaikh ‘Aliy Al-Mulaqqin. Seorang wanita shalihah lagi ahli ibadah. Ia menderita satu penyakit yang kronis.

Ia meriwayatkan Shahih Al-Bukhari dari Ibnuz-Zubaidiy.

Ia juga meriwayatkan dari Al-Fakhr Al-Irbiliy dan yang lainnya.

Wafat pada bulan Muharram. Aku (Adz-Dzahabiy) mendengarkan (riwayat) darinya.

[Taariikhul-Islaam, 52/359].

٦١٩ – خديجة بنت التقي محمد بن محمود بن عبد المنعم المراتبي ، الحنبلي .
أم محمد
، عجوز صالحة ، عابدة ، خيرة ، كثيرة التلاوة ، خير نساء الدير .
روت عن : ابن الزبيدي ، والإربلي .
وهي بنت الزاهدة حبيبة بنت الشيخ أبي عمر .
سمعنا منها وتوفيت في التاسع والعشرين من جمادي الأولى في عشر الثمانين .

619 – Khadiijah binti At-Taqiy Muhammad bin Mahmuud bin ‘Abdil-Mun’im Al-Maraatibiy Al-Hanbaliy, Ummu Muhammad.

Seorang wanita tua shaalihah, ahli ibadah, dermawan (murah hati), banyak membaca (tilaawah) Al-Qur’an. Sebaik-baik wanita Ad-Dair.

Meriwayatkan dari : Ibnu Az-Zubaidiy dan Al-Irbiliy.

Ia adalah anak wanita Az-Zaahidah Habiibah binti Asy-Syaikh Abu ‘Umar.

Kami (Adz-Dzahabiy) mendengar riwayat darinya. Wafat 29 Jumadil-Ulaa pada 10 hari pertama usianya yang 80 tahun..

[Taariikhul-Islaam, 52/403-404].

٦٢٠ – خديجة بنت يوسف بن غنيمة بن حسين .
العالمة ، الفاضلة ، أمة العزيز البغدادية ثم الدمشقية .
وتعرف ببنت القيم . كان أبوها قيم حمام ، فحرص عليها لما رأى نجابتها ، وأسمعها الكثير ، وعلمها الخط والقرآن والوعظ وغير ذلك . وكانت تعظ النساء ، ثم تركت ذلك ولزمت بيتها . وهي زوجة الحاج محمود الذهبي .
ولدت سنة ثمان وعشرين وستمائة ، وسمعت من : مكرم ، وابن الشيرازي ، وابن اللتي ، وابن المقير ، وكريمة .
وبمصر من : علي بن مختار العمري ، وأبي الحسن بن الجميزي .
وحدثت بدمشق والعلا وتبوك ، وجودت على الولي ، وابن الشوا ، والرضى التونسي ، والنجار ، لكن لم تقو يدها . وقرأت مقدمتين في العربية أو أكثر ، وأعربت على النحاة . وقرأ لنا عليها البرزالي ، أبقاه الله ، “مقامات الحريري” .

وكانت قد تفردت بها بدمشق .
توفيت في مستهل شعبان .

620 – Khadiijah binti Yuusuf bin Ghaniimah bin Husain.

Seorang wanita ‘alim, banyak mempunyai keutamaan, Amatul-‘Aziiz Al-Baghdadiyyah, kemudian Ad-Dimasyqiyyah.

Ia dikenal dengan nama Bintul-Qayyim, karena ayahnya adalah seorang qayyim (penanggung jawab/pengurus) kamar mandi umum. Ayahnya berkeinginan lebih padanya saat ia melihat kepandaiannya. Maka ia membuatnya mendengar lebih banyak (pelajaran), mengajarinya menulis, Al-Qur’an, nasihat, dan yang lainnya. Jadilah ia seorang wanita ahli nasihat. Kemudian ia meninggalkan hal itu untuk tinggal dan mengabdi di rumahnya. Ia adalah istri dari Al-Hajj Mahmud Adz-Dzahabiy.

Dilahirkan pada tahun 628 H. Ia mendengar (riwayat) dari : Mukarram, Ibnusy-Syiiraaziy, Ibnul-Lattiy, Ibnul-Muqayyir, dan Kariimah.

Di Mesir (ia mendengar riwayat) dari : ‘Aliy bin Mukhtaar Al-‘Umariy dan Abul-Hasan Al-Jummaiziy.

Ia menceritakan riwayat di Damaskus, Al-‘Ulaa, dan Tabuuk. Ia belajar tajwid kepada Al-Waliy, Ibnusy-Syawwaa, Ar-Ridlaa At-Tuunisiy, dan An-Najjaar; namun ia tidak kokoh penguasannya dalam ilmu ini. Ia juga membaca dua atau lebih muqaddimah dalam (ilmu) bahasa ‘Arab, dan belajar ilmu nahwu. Dan Al-Birzaaliy – semoga Allah menjaganya – membacakan kepada kami untuknya (Khadiijah) kitab Maqaamaatul-Haraariy.

Ia mengajarkan kitab itu sendirian di Damaskus.

Wafat pada awal bulan Sya’ban.

[Taariikhul-Islaam, 52/404].

٦٢٥ – زينب بنت عمر بن كندي بن سعيد بن علي .
أم محمد بنت الحاج زكي الدين الدمشقي
، زوجة ناصر الدين ابن قرقر ، معتمد قلعة بعلبك . امرأة صالحة ، خيرة ، لها بر وصدقة . بنت رباطًا ووقفت أوقافًا ، وعاشت في خير ونعمة ، وحجت ، وروت الكثير ، وتفردت في الوقت .

أجاز لها المؤيد الطوسي ، وأبو روح الهروي ، وزينب الشعرية ، والقاسم بن الصفار ، وأبو البقاء العكبري ، وعبد العظيم بن عبد اللطيف الشرابي ، وأحمد بن ظفر بن هبيرة .
حدثت بدمشق وبعلبك .
وتوفيت في التاسع والعشرين من جمادي الآخرة بقلعة بعلبك عن نحو تسعين سنة .
سمع منها : أبو الحسين اليونيني وأولاده وأقاربه ، وابن أبي الفتح وابناه ، والمزي وابنه الكبير ، والبرزالي ، وابن النابلسي ، وأبو بكر الرحبي ، وابن المهندس ، وأحمد ابن الدربي ، وأبي ، وخالي ، وخلق من أهل بعلبك .
قرأ عليها ابن سامة “صحيح مسلم” ، وقرأت علينا من أول “الصحيح” ألى أول النكاح ، وسمعت ما بقي على ابن عساكر . وسمعت منها عدة أجزاء رحمها الله .

625 – Zainab binti ‘Umar bin Kindiy bin Sa’iid bin ‘Aliy, Ummu Muhammad binti Al-Hajj Zakiyyuddin Ad-Dimasyqiy.

Istri dari Naashiruddin bin Qarqar, orang yang dipercaya sebagai penanggung jawab benteng Ba’labah. Ia seorang wanita shalihah, murah hati, mempunyai kebaikan dan banyak bershadaqah. Ia membangun sebuah rumah perawatan bagi orang miskin dan mewaqafkannya. Ia hidup dalam kebaikan dan kenikmatan. Menunaikan haji, meriwayatkan banyak hal, dan sendirian (dalam periwayatan) pada waktu itu.

Al-Muayyid Ath-Thuusiy, Abu Rauh Al-Harawiy, Zainab Asy-Sya’riyyah, Al-Qaasim bin Ash-Shaffaar, Abul-Baqaa’ Al-‘Ukbariy, ‘Abdul-‘Adhiim bin ‘Abdil-Lathiif Asy-Syaraabiy, dan Ahmad bin Dhafar bin Hubairah memberikan ijin periwayatan kepadanya.

Ia menceritakan (riwayat) di Damaskus dan Ba’labak.

Wafat pada tanggal 29 Jumadil-Akhir di benteng Ba’labak pada usia sekitar 90 tahun.

Mendengar darinya : Abul-Hasan Al-Yuunainiy, anak-anaknya dan saudara-saudaranya; Ibnu Abil-Fath dan dua orang anaknya, Al-Mizziy dan anak pertamanya (yang paling besar), Al-Birzaaliy, Ibnu An-Naabulusiy, Abu Bakr Ar-Rahbiy, Ibnul-Muhandis, Ahmad bin Durabiy, ayahku, pamanku, dan orang-orang yang tinggal Ba’labak.

Ibnu Saamah membacakan kepadanya Shahiih Muslim, dan membacakan kepada kami (Adz-Dzahabiy) awal kitab Ash-Shahih (Muslim) sampai pada awal kitab An-Nikaah (dalam Shahih Muslim). Dan aku mendengar apa yang tersisa (bahasan setelah awal kitab An-Nikaah dalam Shahih Muslim) dari Ibnu ‘Asaakir. Aku mendengar darinya (Zainab) beberapa juz – semoga Allah memberikan rahmat kepadanya.

[Taariikhul-Islaam, 52/406-407]

٦٤٢ – صفية بنت عبد الرحمن بن عمرو العزاء .
أخت شيخنا عز الدين . سمعنا منهما جزءًا .
رويا عن الشيخ الموفق . وكان فيها خير وصلاح ، وهي داية بالجبل .
توفيت بالجبل بعد دخول أهل الجبل إلى البلد شهيدة بالبرد والجوع عن سبع وثمانين سنة . وسماعها في الخامسة .
أخبرنا إسماعيل وصفية قالا : أنا ابن قدامة ، أنا أبو الفتح محمد ، أنا رزق الله ، أنا ابن بشران ، أنا ابن البختري ، ثنا يحيى بن أبي طالب ، أنا عبد الوهاب ، أنا طلحة بن عمرو ، عن ابن طاووس ، أن أباه كان يصوم بعد الفطر ستة أيام ويقول : تعدل صيام السنة ، ثلاثين بعشرة أشهر ، وستة أيام بشهرين .

642 – Shafiyyah binti ‘Abdirrahman bin ‘Amr bin ‘Azzaa’.

Saudara wanita dari syaikh kami ‘Izzuddin. Kami (Adz-Dzahabi) mendengar dari keduanya satu juz.

Keduanya meriwayatkan dari Asy-Syaikh Al-Muwaffaq. Pada Shafiyyah terdapat kebaikan dan keshalihan. Ia adalah seorang bidan (dukun beranak) di sebuah daerah gunung. Wafat di gunung tersebut sebagai syahiidah (insya Allah) akibat cuaca dingin dan kondisi lapar pada usia 87 tahun, setelah penduduk gunung tersebut memasuki kota. Penyimakan riwayatnya berada pada tingkatan kelima.

Telah mengkhabarkan kepada kami Isma’il dan Shafiyyah, mereka berdua berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Qudamah, telah mengkhabarkan kepada kami Abul-Fath Muhammad, telah mengkhabarkan kepada kami Rizqullah, telah mengkhabarkan kepada kami Basyraan, telah mengkhabarkan kepada kami Al-Bakhtariy, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abi Thaalib, telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdul-Wahhaab, telah mengkhabarkan kepada kami Thalhah bin ‘Amr, dari Ibnu Thaawuus : Bahwasannya ayahnya (Thaawuus) berpuasa setelah ‘Iedul-Fithri sebanyak enam hari, dan berkata : “Puasa tersebut sebanding dengan puasa satu tahun. Tiga puluh hari puasa bulan Ramadlan sebanding dengan sepuluh bulan, dan ditambah enam hari sebanding dengan dua bulan (yang jumlah keseluruhannya adalah 12 bulan)”.

[Taariikhul-Islaam, 52/413-414]

٧٣٢ – مريم بنت أحمد بن حاتم بن علي .
دينة ، صالحة ، مبتلاة بالآلام ، صابرة ، محتسبة .
روت عن الإربلي ، وحضرت على البهاء عبد الرحمن .

سمعت منها جزءًا . مولدها ببعلبك سنة اثنتين وعشرين وستمائة وتوفيت بها في التاسع والعشرين من رمضان . وهي أخت الشيخ الزاهد إبراهيم بن حاتم .

732 – Maryam binti Ahmad bin Haatim bin ‘Aliy.

Wanita yang kuat beragama, shalihah, ditimpa musibah penyakit pada badannya, sabar, dan selalu mengharapkan pahala dari Allah.

Meriwayatkan dari Al-Irbiliy dan hadir dalam majelis Al-Bahaa’ ‘Abdurrahman.

Aku (Adz-Dzahabiy) mendengar darinya satu juz. Ia lahir di Ba’labak pada tahun 622 H, dan wafat di Ba’labak pula pada tanggal 29 Ramadlan. Ia merupakan saudara wanita dari Asy-Syaikh Az-Zaahid Ibraahiim bin Haatim.

[Taariikhul-Islaam, 52/454-455].

٧٧٧ – خديجة بنت القاضي كمال الدين إسحاق بن خليل بن فارس الشيباني ، الشافعي .
روت لنا بالإجازة عن : ابن صباح ، وابن اللتي ، وابن باسويه ، والإربلي ، وجماعة .
وتوفيت بأذرعات عند أخيها القاضي محيي الدين في العام .

777 – Khadiijah binti Al-Qaadliy Kamaaluddiin Ishaaq bin Khaliil bin Faaris Asy-Syaibaaniy Asy-Syaafi’iy.

Meriwayatkan kepada kami (Adz-Dzahabiy) dengan ijaazah dari : Ibnu Shabaah, Ibnul-Lattiy, Ibnul-Baasawaih, Al-Irbiliy, dan sekelompok ulama lainnya.

Wafat di Adzra’aat di sisi saudaranya Al-Qaadliy Muhyiddiin pada waktu siang hari.

[Taariikhul-Islaam, 52/747]

٧٨٢ – زينب. أم الخير ، بنت قاضي القضاة محيي الدين يحيى بن محمد بن الزكي ، القرشي ، الدمشقي ، الشافعي . زوجة النظام عبد الله ابن البانياسي .
روت لنا عن : أبي الحسن بن المقير ، وعلي بن حجاج البتلهي ، وأبي القاسم بن رواحة ، وفتوح بن نوح الخوثي .
وسمعت أيضًا من محيي الدين ابن العربي صاحب التصانيف .
سمعنا منها ببستان أولادها عند بركة الحميريين أنا ، والبرزالي ، والمقاتلي ، وابن النابلسي ، وجماعة .
وتوفيت بالبستان في تاسع شعبان ، ودفنت بالجبل .

782 – Zainab, Ummul-Khair, binti Qaadliy Al-Qudlaat Muhyiddiin bin Muhammad bin Az-Zakiy, Al-Qurasyiy, Ad-Dimasyqiy, Asy-Syaafi’iy.

Meriwayatkan kepada kami (Adz-Dzahabiy) dari : Abul-Hasan bin Al-Muqayyir, ‘Aliy bin Hajjaaj Al-Batlahiy, Abul-Qaasim bin Rawaahah, dan Futtuuh bin Nuuh Al-Khuuiy.

Ia mendengarkan pula dari Muhyiddin bin Al-‘Arabiy, pemilik beberapa karangan kitab.

Aku (Adz-Dzahabiy, Al-Birzaaliy, Al-Muqaatiliy, Ibnun-Naabulusiy, dan sekelompok orang mendengar darinya di kebun anak-anaknya di Barakatul-Himyariyyiin.

Ia wafat di kebun tersebut pada tanggal 9 Sya’ban, dan kemudian dikebumikan di sebuah gunung.

[Taariikhul-Islaam, 52/476-477].

٧٨٩ – عائشة بنت القاضي كمال الدين إسحاق بن خليل الشيباني .
أم عيسى ، أخت خديجة المذكورة .
روت لنا بالإجازة مع أختها عن : ابن اللتي ، وابن صباح ، وجماعة .
وتوفيت بدمشق ، ودفنت عند أبيها بقاسيون .

789 – ‘Aisyah binti Al-Qaadliy Kamaaluddiin Ishaaq bin Khaliil Asy-Syaibaaniy, Ummu Muhammad.

Saudara wanita dari Khadiijah sebagaimana telah disebutkan (no. 777).

Meriwayatkan kepada kami (Adz-Dzahabiy) dengan ijazah bersama saudara wanitanya (Khadiijah) dari : Ibnl-Lattiy, Ibnu Shabaah, dan sekelompok ulama.

Wafat di Damaskus, dan dikebumikan di samping ayahnya di Qaasuun.

[Taarikhul-Islaam, 52/479].

****

Itulah beberapa guru Al-Haafidh Adz-Dzahabiy dari kalangan wanita. Tentu saja, kita tidak akan jemu menantikan lahirnya kembali wanita-wanita seperti itu di jaman kita yang telah penuh dengan wanita-wanita jahil (terhadap agamanya), pembawa fitnah terhadap dunia dan agama.

Dan semoga yang kita nantikan itu diantaranya adalah istri-istri kita, anak-anak wanita kita, saudara-saudara wanita kita, ibu-ibu kita, atau kerabat-kerabat wanita kita. Semoga Allah mengembalikan kejayaan Islam dengan menghadirkan wanita berilmu lagi shalihah di tengah umat. Amiin.

[selesai ditulis oleh Abu Al-Jauzaa’ dari buku Taariikh Al-Islaam wa Wafaayatul-Masyaahiri wal-A’laam karangan Al-Haafidh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsmaan Adz-Dzahabiy, tahqiq : Dr. ‘Umar bin ‘Abdis-Salaam At-Tadmuriy; Daarul-Kitaab Al-‘Arabiy, Cet. 1/1421 H – dengan bantuan tulisan Abu Yusuf Shaghiir bin ‘Abdir-Rasyiid Al-Kasymiriy hafidhahullah].

Jul 02

Sanad Kitab ‘Aqidah Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah

Di kalangan ulama madzhab Hanafiyyah, setidaknya terdapat 3 (tiga) kitab ‘aqidah yang dinisbatkan kepada Al-Imam Abu Hanifah rahimahullahu ta’ala, yaitu :

1. Al-Washiyyah.

2. Al-Fiqhul-Absath.

3. Al-Fiqhul-Akbar.

Namun, di kalangan muhaqqiq terdapat pembicaraan mengenai kebenaran nisbah kitab-kitab tersebut kepada Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah. Berikut penjelasannya :

1. Kitab Al-Washiyyah.

Sebagian ulama Hanafiyyah muta’akhkhiriin beranggapan bahwa Al-Imam Abu Hanifah An-Nu’maan telah menuliskan sebuah kitab menjelang wafatnya, seperti halnya sebuah wasiat, kepada para shahabatnya. Kitab tersebut berisi tentang permasalahan ushuuluddiin (pokok-pokok agama). Ia merupakan ‘aqidah yang dipegang oleh (sebagian) kalangan Hanafiyyah. Berkata Al-Murtadlaa Az-Zubaidiy :

وذكر هذه الوصية بتمامها الإمام صارم المصري في (نظم الجمان) ومن المتأخرين القاضي تقي الدين التميمي في (الطبقات السنية)

“(Kitab) Al-Washiyyah ini disebutkan secara lengkap oleh Al-Imam Shaarim Al-Mishriy dalam Nadhmul-Jumaan, dan dari kalangan muta’akhkhiriin adalah Al-Qaadliy Taqiyyuddin At-Tamiimiy dalam Ath-Thabaqaatus-Saniyyah”.

Benarkah kitab ini shahih dinisbatkan kepada Abu Hanifah ?

Pertama : Kitab ini diriwayatkan melalui jalan Abu Thaahir Muhammad bin Al-Mahdiy Al-Husainiy, dari Ishaaq bin Manshuur Al-Mis-yaariy, dari Ahmad bin ‘Aliy As-Sulaimaniy, dari Haatim bin ‘Aqiil Al-Jauhariy, dari Abu ‘Abdillah Muhammad bin Simaa’ah At-Tamimiy, dari Abu Yusuf, dari Al-Imam Abu Hanifah.

Sanad riwayat ini secara berturut-turut terdapat beberapa perawi majhul, yaitu : Muhammad bin Al-Mahdiy Al-Husainiy, Ishaq Al-Mis-yaariy, Ahmad As-Sulaimaniy, dan Haatim Al-Jauhariy. Keempat orang tersebut adalah majhul yang tidak ditemukan biografinya dalam kitab-kitab rijaal, bahkan dalam kitab-kitab Thabaqaat Al-Hanafiyyah. Dengan keadaan sanad seperti ini, tidak mungkin kitab Al-Washiyyah dinisbatkan kepada Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah.

Kedua : Dalam kitab ini terdapat banyak hal yang bertentangan dengan i’tiqad Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Bahkan bertentangan dengan yang ternukil secara ma’ruf dari Abu Hanifah dalam kitab Al-‘Aqiidah Ath-Thahawiyyah – dimana ia merupakan nukilan yang lebih shahih dari periwayatan ‘aqidah beliau dan dua orang shahabatnya (abu Yusuf dan Muhammad bin Al-Hasan) rahimahumullah. Isi kitab Al-Washiyyah ini berkesesuaian dengan ‘aqidah Asy’ariyyah yang merupakan ‘aqidah yang baru muncul lebih dari satu setengah abad setelah wafatnya Abu Hanifah. Abu Hanifah berlepas diri dari kitab ini dan apa-apa yang diadakan setelah wafat beliau yang menyelisihi ushul ‘aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.

Dengan dua faktor di atas, maka tidak boleh kita menisbatkan kitab Al-Washiyyah dan apa-apa yang terdapat di dalamnya kepada Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah.

2. Kitab Al-Fiqhul-Absath.

Para muhaqqiq juga menegaskan bahwa Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah tidak menulis kitab yang berjudul Al-Fiqhul-Absath. Kitab dikenal dengan nama ini diriwayatkan oleh Abu Muthi’ Al-Balkhiy, dari Abu Hanifah, namun dengan nama/judul Al-Fiqhul-Akbar (sebagaimana dinukil Ibnu Taimiyyah dalam Al-Hamawiyyah 5/46, Ibnul-Qayyim dalam Ijtimaa’ul-Juyuusy hal. 76, dan Adz-Dzahabiy dalam Al-‘Uluuw hal. 135 – dimana mereka menamakan dengan Al-Fiqhul-Akbar).

Tidak dikenal dengan nama Al-Fiqhul-Al-Absath, kecuali dari sebagian ulama Hanafiyyah muta’akhkhiriin seperti Al-Bayaadliy dalam kitabnya Isyaaraatul-Maraam, Az-Zubaidiy dalam Ittihaafus-Saadatil-Muttaqiin – dimana keduanya lebih mengutamakan nama Al-Fiqhul-Absath (dari riwayat Abu Muthi’ Al-Balkhiy), daripada Al-Fiqhul-Akbar yang berasal dari riwayat Hammaad bin Abi Haniifah.

Adapun Abu Muthii’ Al-Balkhiy, ia adalah Al-Hakam bin ‘Abdillah Al-Balkhiy, termasuk perawi hadits yang dla’if. Bahkan dituduh memalsukan (hadits). Al-Haafidh Ibnu Hajar dalam Lisaanul-Miizaan (2/335) berkata : “Telah berkata Abu Haatim Ar-Raaziy : Ia seorang Murji’ lagi pendusta”. Al-Haafidh Adz-Dzahabiy menegaskan bahwa Al-Balhkiy ini telah melasukan hadits. Abu Dawud berkata : “Ia seorang Jahmiy”. Dan yang lainnya. Intinya, ia merupakan seorang perawi yang lemah, bahkan sangat lemah menurut jumhur ahli hadits.

Kitab ini dianggap sebagai kitab mu’tamad bagi kalangan Hanafiyyah Maturidiyyah. Berkata Asy-Syaikh Dr. Muhammad bin ‘Abdirrahman Al-Khumais :

ويظهر أن الكتاب من تخريج أبي مطيع على كلام أبي حنيفة, فما فيه من مخالف لما قرره أبو جعفر الطحاوي في عقيدته التي نقلها عن أبي حنيفة وأبى يوسف ومحمد بن الحسن فنجزم أن أبا مطيع كذب على أبي حنيفة، إلا إذا خالف بدعة أبي مطيع في التجهم و تعطيل الصفات فنقبلها إذ ليس فيها نصرة لمذهبه

“Yang nampak adalah bahwa kitab ini dikeluarkan oleh Abu Muthi’ (Al-Balkhiy) dari perkataan Abu Hanifah. Adapun yang terdapat pada kitab tersebut menyelisihi apa-apa yang ditegaskan oleh Abu Ja’far Ath-Thahawiy dalam kitab ‘aqidahnya (Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah) yang ia nukil dari (perkataan) Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan Muhammad bin Al-Hasan. Oleh karena itu, kami memastikan bahwa Abu Muthi’ telah berdusta atas nama Abu Hanifah dalam hal ini. Terkecuali bila terdapat penyelisihan bid’ah Abu Muthi’ dalam tajahhum (paham Jahmiyyah) dan ta’thil (peniadaan) shifat Allah; maka kami menerimanya jika memang tidak ada faktor pembelaan terhadap madzhab (bid’ah)-nya”.

3. Kitab Al-Fiqhul-Akbar.

Kitab Al-Fiqhul-Akbar adalah kitab yang paling masyhur dibandingkan kitab-kitab sebelumnya. Kitab ini lebih berkesesuaian dengan ‘aqidah Ahlus-Sunnah dibanding dua kitab sebelumnya. Namun para muhaqqiq pun memberikan kritikan atas penisbatan kitab ini pada Abu Hanifah. Kitab Al-Fiqhul-Akbar dibawakan melalui riwayat Hammad bin Abi Hanifah, dari Hammaad diriwayatkan oleh ‘Aashim bin Yusuf Al-Balkhiy, dan dari ‘Aashim diriwayatkan oleh Muhammad bin Muqaatil. Ketiga orang ini termasuk jajaran perawi yang dla’if, sebagaimana dijelaskan oleh Adz-Dzahabi rahimahullah dalam Al-Miizaan.[1]

Inilah sedikit informasi yang dapat disampaikan kepada para Pembaca. Apa yang ternukil di atas hanya merupakan ringkasan saja dari pembahasan para muhaqqiqiin. Lebih dan kurangnya mohon dimaafkan, dan… semoga ada manfaatnya.



Abu Al-Jauzaa’ – Perumahan Ciomas Permai, Bogor.

Artikel terkait : APAKAH KITAB AL-FIQHUL-AKBAR MERUPAKAN KARYA AL-IMAM ABU HANIFAH ?



[1] Di kalangan ulama ada dua penisbatan riwayat kitab Al-Fiqhul-Akbar. Pertama dari riwayat Abu Muthi’ Al-Balkhiy yang kemudian lebih terkenal di kalangan Hanafiyyah dengan nama Al-Fiqhul-Absath; dan kedua, dari riwayat Hammaad bin Abi Hanifah (yang tetap dengan nama Al-Fiqhul-Akbar). Wallaahu a’lam.

Jul 02

Larangan Berlomba-Lomba dalam Urusan Dunia

Allah ta’ala berfirman :

إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالأنْعَامُ حَتَّى إِذَا أَخَذَتِ الأرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالأمْسِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir” [QS. Yunus : 24].

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا * الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا

“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” [QS. Al-Kahfi : 45-46].

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” [QS. Al-Hadiid : 20].

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah” [QS. Faathir : 5].

فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلا أَنْ قَالُوا اقْتُلُوهُ أَوْ حَرِّقُوهُ فَأَنْجَاهُ اللَّهُ مِنَ النَّارِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Maka tidak adalah jawaban kaum Ibrahim, selain mengatakan: “Bunuhlah atau bakarlah dia”, lalu Allah menyelamatkannya dari api. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman” [QS. Al-Ankabuut : 64].

Diriwayatkan dari ‘Amr bin ‘Auf radliyallaahu ‘anhu :

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم بعث أبا عبيدة بن الجراح إلى البحرين يأتي بجزيتها، وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم هو صالح أهل البحرين وأمر عليهم العلاء بن الحضرمي، فقدم أبو عبيدة بمال من البحرين، فسمعت الأنصار بقدوم أبي عبيدة فوافت صلاة الصبح مع النبي صلى الله عليه وسلم، فلما صلى بهم الفجر انصرف، فتعرضوا له فتبسم رسول الله صلى الله عليه وسلم حين رآهم، وقال: (أظنكم قد سمعتم أن أبا عبيدة قد جاء بشيء). قالوا: أجل يا رسول الله، قال: (فأبشروا وأملوا ما يسركم، فوالله لا الفقر أخشى عليكم، ولكن أخشى عليكم أن تبسط عليكم الدنيا، كما بسطت على من كان قبلكم، فتنافسوها كما تنافسوها، وتهلككم كما أهلكتهم).

“Bahwasannya Rasululah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengutus Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarraah ke Bahrain untuk mengambil harta jizyah; dan ketika itu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mengadakan perjanjian damai dengan orang-orang Bahrain dengan mengangkat Al-‘Alaa’ bin Al-Hadlramiy sebagai gubernur di sana. Maka Abu ‘Ubaidah pun datang dengan membawa harta dari Bahrain. Orang-orang Anshar mendengar kedatangan Abu ‘Ubaidah. Mereka pun mengerjakan shalat Shubuh bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ketika telah selesai shalat Shubuh, beliau berpaling. Mereka pun mendatangi beliau. Maka, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tersenyum saat melihat kedatangan mereka, dan bersabda : “Aku kira kalian telah mendengar Abu ‘Ubaidah telah datang dengan membawa sesuatu”. Mereka berkata : “Benar wahai Rasulullah”. Beliau bersabda : “Bergembiralah dan harapkanlah untuk memperoleh apa-apa yang menyenangkan kalian. Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan atas diri kalian. Namun yang aku takutkan atas diri kalian adalah akan dibentangkannya dunia pada kalian, sebagaimana telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian. Maka kalian akan berlomba-lomba sebagaimana mereka dulu telah berlomba-lomba (untuk mendapatkannya). Lalu kalian akan binasa sebagaimana mereka dulu telah binasa”.[1]

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :

أن النبي صلى الله عليه وسلم جلس ذات يوم على المنبر، وجلسنا حوله، فقال: (إني مما أخاف عليكم من بعدي ما يفتح عليكم من زهرة الدنيا وزينتها)

Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah duduk pada suatu hari di atas mimbar. Kami pun duduk di sekitar beliau. Maka beliau bersabda : “Sesungguhnya yang aku takutkan atas diri kalian setelahku adalah dibukakannya bunga (kemegahan) dunia dan perhiasannya kepada kalian”.[2]

Dan diriwayatkan juga dari Abu Sa’id Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إن الدنيا حلوة خضرة. وإن الله مستخلفكم فيها. فينظر كيف تعملون. فاتقوا الدنيا واتقوا النساء. فإن أول فتنة بني إسرائيل كانت في النساء.

“Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau. Dan sesungguhnya Allah akan menyerahkannya kepada kalian dan melihat apa yang akan kalian lakukan. Maka, berhati-hatilah kalian pada dunia, dan berhati-hatilah juga pada para wanita ! Karena fitnah yang pertama kali menimpa Bani Israil datang dari para wanita”.[3]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ألا إن الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكر الله وما والاه وعالم أو متعلم

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya dunia itu terlaknat, dan terlaknat pula apa-apa yang ada di dalamnya. Kecuali dzikir kepada Allah, apa-apa yang mendekatkan diri kepada-Nya, orang yang mengajarkan ilmu, atau orang yang belajar ilmu”.[4]

Kandungan Bab :

1. Dunia itu cepat hilangnya, dan berpegang pada dunia adalah fatamorgana. Sedangkan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal abadi yang tidak akan hilang atau habis.

2. Peringatan bagi siapa saja yang dibukakan dunia kepadanya dari buruknya akibat dan firnah yang ditimbulkannya. Maka janganlah ia merasa tenang dengan kemegahannya.

3. Berlomba-lomba dalam urusan duniaakan menyeret manusia kepada kerusakan agama dan dunia. Karena harta itu sangat menggiurkan hingga jiwa pun suka dan mencarinya. Ia merasa nikmat dengannya. Dan itu dapat memicu timbulnya permusuhan, pertumpahan darah, dan menyeret kepada kebinasaan.

4. Seorang mukmin tidaklah merasa tenang kepada harta dan tidak pula tenggelam di dalamnya. Karena harta itu tidaklah ada nilainya di sisi Allah meskipun hanya seperti sayap nyamuk. Oleh karena itu, seorang mukmin hidup di dunia seperti hidup di dalam penjara, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

الدنيا سجن المؤمن وجنة الكافر

“Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi bagi orang kafir”.[5]

Ia merasa rindu dengan kampungnya yang pertama di surga yang abadi. Semoga Allah merahmati Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah yang mengatakan :

وحي على جنات عدن فإنها منازلك الأولى وفيها المخيم

ولكننا سبي العدو فهل ترى نعود إلى أوطاننا ونسلم

وأي اغتراب فوق غربتنا التي لها أضحت الأعداء فينا تحكم

وقد زعموا أن الغريب إذا نأى وشطت به أوطانه ليس ينعم

فمن أجل ذا لا ينعم العبد ساعة من العمر إلا بعد ما يتألم

“Marilah segera menuju jannah ‘Adn,

karena sesungguhnya adalah tempatmu pertama dan di dalamnya ada tempat tinggal

Akan tetapi kita tawanan musuh

apakah menurut pandanganmu kita bisa kembali ke kampung kita dengan selamat ?

Keterasingan siapa lagi yang lebih hebat dari keterasingan kita

yang mana musuh-musuh menguasai kita

Mereka mengira bahwasannya orang yang asing

adalah orang yang jauh dari tempat tinggalnya dan tidak merasa nikmat

Karena itulah seorang hamba tidaklah merasa nikmat walau sesaat dari umurnya

kecuali setelah ia merasakan sakit.[6]

5. Selayaknya kita menjadikan dunia sebagai tempat lintas menuju kampung akhirat, karena dunia ini akan binasa dan bukan kampung yang abadi. Tempat lintas bukan tempat menetap. Sungguh baik orang yang mengatakan :

إن لله عبادا فطنا طلقوا الدنيا وخافوا الفتنا
نظروا فيها فلما علموا أنها ليست لحي وطنا
جعلوها لجة واتخذوا صالح الأعمال فيها سفنا

“Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang bijak

mereka meninggalkan dunia dan takut fitnah

Mereka melihat dan memperhatikannya, maka setelah mereka mengetahui

bahwa dunia bukanlah tempat tinggal untuk hidup

Maka mereka menjadikannya sebagai samudera

dan amal shalih sebagai bahteranya.

[selesai – dikutip oleh Abu Al-Jauzaa’ dengan beberapa perubahan dan penambahan dari Ensiklopedi Larangan Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah – edisi terjemah karya Asy-Syaikh Salim Al-Hilaliy, 3/416-421; Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Cet. 1/1427]




[1] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 3158 dan Muslim no. 2961.

[2] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1465 dan Muslim no. 1052.

[3] Diriwayatkan oleh Muslim no. 2742.

[4] Hadits shahih lighairihi; diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 2322, Ibnu Majah no. 4112, Al-Baihaqi dalam Syu’abul-Iman no. 1708, dan Ibnu Abi ‘Aashim dalam Az-Zuhd no. 57. Dari jalur ‘Abdurrahman bin Tsaabit, ia berkata : “Aku mendengar ‘Atha’ bin Qurrah : Aku mendengat ‘Abdullah bin Hamzah berkata : Aku mendengar Abu Hurairah berkata : (lalu ia menyebutkan hadits tersebut)”. Saya (Asy-Syaikh Saliim Al-Hilaliy) katakan : “Sanadnya hasan”.

Hadits ini mempunyai penyerta dari jalur Wahib bin Al-Ward Al-‘Aabid dari ‘Atha’ bin Qurrah yang dikeluarklan oleh Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah no. 4028.

Dan hadits ini mempunyai beberapa penguat dari beberapa orang shahabat di antaranya Jaabir bin ‘Abdillah, Abu Darda’, Abu Sa’id, Ibnu Mas’ud, dan ‘Ali radliyallaahu ‘anhum.

[5] Hadits shahih; diriwayatkan oleh Muslim no. 2956, At-Tirmidzi no. 4113, Al-Haakim 4/315, Abu Ya’la no. 6465, Ibnu Hibban no. 676-677, Abu Nu’aim 6/350.

[6] Madaarijus-Saalikiin, hal. 3/200-201; Daarul-Kitaab Al-‘Arabiy, Cet. 2/1393 H. – Abu Al-Jauzaa’.

Jun 30

Al-Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah Bukan Seorang Rafidliy

Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah membawakan satu riwayat dalam kitabnya sebagai berikut :

قد قال الزبير بن عبد الواحد الاستراباذي: أخبرنا حمزة بن علي الجوهري، حدثنا الربيع بن سليمان قال: حججنا مع الشافعي، فما ارتقى شرفا، ولا هبط واديا، إلا وهو يبكي، وينشد: يا راكبا قف بالمحصب من منى * واهتف بقاعد خيفنا والناهض سحرا إذا فاض الحجيج إلى منى * فيضا كملتطم الفرات الفائض إن كان رفضا حب آل محمد * فليشهد الثقلان أني رافضي

“Telah berkata Az-Zubair bin ‘Abdil-Waahid Al-Istiraabaadziy : Telah mengkhabarkan kepada kami Hamzah bin ‘Aliy Al-Jauhariy : Telah menceritakan kepada kami Ar-Rabii’ bin Sulaiman, ia berkata : “Kami pernah melakukan ibadah haji bersama Asy-Syafi’iy. Tidaklah ia menanjak tanah yang tinggi atau menuruni tanah yang rendah, kecuali senantiasa ia menangis serta bersenandung syair :

Wahai pengendara, behentilah di tempat lemparan di Mina

Serukan kepada orang yang duduk dan yang berdiri seluruhnya

Sebuah sihir jika jama’ah haji telah mengalir ke Mina

Secara berbondong-bondong seperti gelombang air (sungai) Furat yang meluap

Jika Rafidlah berarti mencintai keluarga Muhammad

Maka hendaknya jin dan manusia bersaksi bahwa aku seorang Rafidliy

[Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 10/58. Lihat juga Manaaqib Asy-Syafi’iy lil-Baihaqiy 2/71, Manaaqib Asy-Syafi’iy lir-Raaziy hal. 51, Taariikh Ibni ‘Asaakir 14/407, Ath-Thabaqaat Asy-Syafi’iyyah lis-Subkiy 1/299, Al-Intiqaa’ 90-91, Mu’jamul-Adbaa’ 17/320, dan ‘Uyuunut-Tawaariikh 7/180].

Beberapa orang Syi’ah Rafidlah menukil riwayat ini dan mengklaim bahwa Al-Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah termasuk golongan mereka.

Klaim mereka ini tentu saja salah dengan kesalahan yang teramat nyata. Adz-Dzahabiy rahimahullah berkata :

من زعم أن الشافعي يتشيع فهو مفتر، لا يدري ما يقول……

لو كان شيعيا – وحاشاه من ذلك – لما قال: الخلفاء الراشدون خمسة، بدأ بالصديق، وختم بعمر بن عبد العزيز.

“Barangsiapa yang menyangka bahwa Asy-Syafi’iy mempunyai kecenderungan kepada Syi’ah, maka ia telah mengada-ada, tidak mengetahui apa yang dikatakannya…. Apabila ia seorang Syi’iy – dan ia jauh dari hal itu – tentu ia tidak mengatakan : ‘Al-Khulafaaur-Raasyidiin itu ada lima, dimulai dari (Abu Bakr) Ash-Shiddiq, dan ditutup dengan ‘Umar bin ‘Abdil-‘Aziiz” [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 10/58-59].

Apa yang dikatakan oleh Adz-Dzahabi rahimahullah di atas adalah benar. Tidaklah disebut sebagai Rafidlah orang yang mencintai keluarga Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ahlus-Sunnah telah sepakat tentang kewajiban mencintai mereka, sebagaimana pula mereka telah sepakat untuk mencintai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam beserta para shahabatnya radliyallaahu ‘anhum.

Allah ta’ala telah berfirman :

قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى

“Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan” [QS. Asy-Syuuraa : 23].

Salah satu makna al-qurbaa dalam ayat di atas adalah keluarga Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam – sebagaimana dikatakan oleh Sa’id bin Jubair radliyallaahu ‘anhu (lihat Shahih Al-Bukhari no. 4818). Ibnu Katsir rahimahullah kemudian menjelaskan :

ولا تنكر الوصاة بأهل البيت، والأمر بالإحسان إليهم، واحترامهم وإكرامهم، فإنهم من ذرية طاهرة، من أشرف بيت وجد على وجه الأرض، فخرًا وحسبًا ونسبًا، ولا سيما إذا كانوا متبعين للسنة النبوية الصحيحة الواضحة الجلية، كما كان عليه سلفهم، كالعباس وبنيه، وعلي وأهل بيته وذريته، رضي الله عنهم أجمعين.
و [قد ثبت] في الصحيح: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال في خطبته بغَدِير خُمّ: “إني تارك فيكم الثقلين: كتاب الله وعترتي، وإنهما لم يفترقا حتى يردا علي الحوض”.
وقال الإمام أحمد عن العباس بن عبد المطلب قال: قلت: يا رسول الله، إن قريشا إذا لقي بعضهم بعضا لقوهم ببشر حسن، وإذا لقونا لقونا بوجوه لا نعرفها؟ قال: فغضب النبي صلى الله عليه وسلم غضبا شديدا، وقال: “والذي نفسي بيده، لا يدخل قلب الرجل الإيمان حتى يحبكم لله ولرسوله”.
وقال البخاري عن أبي بكر الصديق، رضي الله عنه، قال: ارقبوا محمدا صلى الله عليه وسلم في أهل بيته.
وفي الصحيح: أن الصديق قال لعلي، رضي الله عنهما: والله لقرابة رسول الله صلى الله عليه وسلم أحب إلي أن أصل من قرابتي.
وقال عمر بن الخطاب للعباس، رضي الله عنهما: والله لإسلامك يوم أسلمت كان أحب إليَّ من إسلام الخطاب لو أسلم؛ لأن إسلامك كان أحب إلى رسول الله من إسلام الخطاب.

“Kita tidak mengingkari berbuat baik kepada Ahlul-Bait, serta memerintahkan bersikap hormat dan memuliakan mereka, karena mereka adalah keturunan suci dari rumah suci di muka bumi. Baik keagungan, kehormatan, ataupun keturunan. Apalagi jika mereka mengikuti Sunnah Nabawiyyah yang shahih, tegas, lagi jelas; sebagaimana yang ada pada pendahulu mereka, seperti Al-‘Abbas dan anak-anaknya; serta ‘Ali dengan keluarga dan keturunannya. Semoga Allah meridlai mereka semuanya.

Telah tsabit dalam Ash-Shahiih[1] bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda dalam khutbahnya di Ghadir Khum : “Sesungguhnya aku tinggalkan pada kalian dua hal yang berharga, yaitu : ‘Kitabullah (Al-Qur’an) dan keluargaku. Sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya mendatangi Haudl”.

Dari Al-Imam Ahmad[2], dari Al-‘Abbas bin ‘Abdil-Muthallib, ia berkata : “Aku berkata : ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang Quraisy apabila mereka berjumpa satu dengan yang lainnya, mereka saling menebar kegembiraan. Dan jika mereka berjumpa dengan kita, seakan-akan mereka berjumpa dengan orang yang tidak mereka kenal’. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam sangat marah dan bersabda : ‘Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, iman tidaklah akan masuk ke hati seorang hamba hingga ia mencintai kalian karena Allah dan Rasul-Nya”.

Berkata Al-Bukhari[3] dari Abu Bakr Ash-Shiddiq radliyallaahu ‘anhu : “Perhatikanlah Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada Ahlul-Baitnya”.

Dan dalam Ash-Shahiih[4] : Bahwasannya (Abu Bakr) Ash-Shiddiq pernah berkata kepada ‘Aliy radliyallaahu ‘anhuma : “Demi Allah, sesungguhnya kerabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam lebih aku senangi untuk aku sambung daripada kerabatku sendiri”.

‘Umar bin Al-Khaththaab[5] pernah berkata kepada Al-‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma : “Demi Allah, sesungguhnya keislamanmu pada hari ini lebih aku senangi daripada keislaman Al-Khaththaab, jika ia memeluk Islam. Karena keislamanmu lebih dicintai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam daripada keislaman Al-Khaththaab”.

[selesai – Tafsir Ibnu Katsir, 12/271-272 dengan peringkasan].

Maka, ketika ada sebagian orang yang menuduh Al-Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah sebagai seorang Syi’iy atau Raafidliy, beliau melantunkan syair :

إذا نحن فضلنا علياً فإننا

روافض بالتفضيل عند ذوي الجهل

وفضل أبو بكر إذا ما ذكرته

رميت بنَصْب عند ذكريَ للفضل

فلازلت ذا رفض ونصب كليهما

أدين به، حتى أوسد الرمل

Jika kami mengutamakan ‘Ali maka sesungguhnya kami

adalah Raafidlah karenanya menurut orang-orang bodoh.

Dan jika aku menyebut keutamaan Abu Bakr

maka aku dituduh Naashibiy pada saat aku mengatakannya

Maka aku senantiasa Raafidliy dan Naashibiy, kedua-duanya

aku memegangnya sampai aku dikubur di tanah

[Manaaqibusy-Syaafi’iy oleh Ar-Raaziy, hal. 140-143]

Al-Haafidh Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya :

قيل للشافعي : إنَّ فيك بعضَ التشيُّع، قال : وكيف ذاك ؟ قالوا : لأنك تُظهرُ حُبَّ آل محمد، فقال : يا قوم، ألم يَقُل رسولُ الله صلى الله عليه وسلم : ((لا يُؤمِنُ أحدُكم حتى أَكونَ أَحَبَّ إليه من والدِهِ ووَلِدِهِ والناس أَجمعين)). وقال : ((إن أوليائي من عترتي : المُتَّقُون)). فإذا كان واجباً عليَّ أن أُحِبَّ قَرَابتي وذوي رحمي إذا كانوا من المتقين، أليس من الديِّين أن أُحِبَّ قَرابةَ رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا كانوا من المتقين. لإنه كان يُحِبُّ قرابتَه، وأَنشد : يا راكباًَ قِفْ بالمحصَّبِ مِن منًَى.

Bahwasannya ada seseorang yang berkata kepada Asy-Syafi’iy rahimahullah : “Sesungguhnya pada dirimu terdapat kecenderungan kepada Syi’ah”. Beliau bertanya : “Bagaimana bisa seperti itu ?”. Mereka menjawab : “Engkau menunjukkan kecintaan kepada keluarga Muhammad”. Maka Asy-Syafi’iy mengatakan : “Wahai manusia, bukankah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : ‘Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia lebih mencintaiku daripada ayahnya, anaknya, dan seluruh manusia’. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda : ‘Sesungguhnya wali-wali-Ku dari keluargaku adalah orang-orang yang bertaqwa’. Jika aku wajib mencintai kerabat dan sanak familiku jika mereka adalah orang-orang yang bertaqwa, bukankah termasuk bagian dari agama jika aku mencintai kerabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bila mereka adalah orang-orang yang bertaqwa. Karena beliau sendiri mencintai kerabatnya”. Lalu Asy-Syafi’iy menyenandungkan syair : “Wahai pengendara, berhentilah di tempat lemparan di Mina” [Al-Intiqaa’ fii Fadlaailil-Aimmatits-Tsalaatsatil-Fuqahaa’, hal. 146-147].

Ringkasnya, mencintai kerabat/Ahlul-Bait Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidaklah harus mengkonsekuensikan sebagai seorang Raafidliy atau Syi’iy. Bahkan, sebagai seorang muslim kita dianjurkan untuk mencintai mereka dengan batas-batas yang telah diatur oleh syari’at. Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

ويحبون أهل بيت رسول الله ويتولونهم ويحفظون فيهم وصية رسول الله صلى الله عليه وسلم حيث قال يوم (غدير خم) : (أذكركم الله في أهل بيتي)، وقال أيضاً للعباس عمه وقد اشتكى إليه أن بعض قريش يجفو بني هاشم فقال : (والذي نفسي بيده لا يؤمنون حتى يحبوكم لله ولقرابتي (وقال) إن الله اصطفى بني إسماعيل واصطفى من بني إسماعيل كنانة واصطفى من كنانة قريشاً واصطفى من قريش بني هاشم واصطفاني من بني هاشم). ويتولون أزواج رسول الله صلى الله عليه وسلم أمهات المؤمنين ويؤمنون بأنهن أزواجه في الآخرة خصوصاً خديجة رضي الله عنها أم أكثر أولاده أول من آمن به وعاضده على أمره وكان لها منه المنزلة العالية والصِّدّيقة بنت الصّدّيق رضي الله عنها التي قال النبي صلى الله عليه وسلم : (فضل عائشة على النساء كفضل الثريد على سائر الطعام).

“Dan mereka (Ahlus-Sunnah) mencintai Ahlul-Bait Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, setia kepada mereka, serta menjaga wasiat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang mereka, yaitu ketika beliau bersabda di satu hari (Ghaadir-Khum) : Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul-Bait-ku”. Beliau juga berkata kepada pamannya, Al-‘Abbas, dimana ketika itu ia (Al-‘Abbas) mengeluh bahwa sebagian orang Quraisy membenci Bani Haasyim. Beliau bersabda : “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, mereka itu tidak beriman sehingga mereka mencintai kalian karena Allah, dan karena mereka itu sanak kerabatku”. Beliau juga bersabda : “Sesungguhnya Allah telah memilih dari Bani Isma’il yaitu suku Kinaanah, dan dari Bani Kinaanah, yaitu suku Quraisy, dari suku Quraisy, terpilih Bani Haasyim. Dan Allah memilihku dari Bani Haasyim”. Dan Ahlus-Sunnah senantiasa setia dan cinta kepada istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, karena mereka adalah Ummahatul-Mukminin, serta meyakini bahwasannya mereka adalah istri-istri beliau di akhirat nanti, khususnya Khadijah radliyallaahu ‘anhaa, ibu dari sebagian besar anak-anak Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ia adalah orang yang pertama kali beriman kepada beliau, mendukungnya, serta mempunyai kedudukan yang tinggi. Dan juga Ash-Shiddiqah binti Ash-Shiddiq radliyallaahu ‘anhaa dimana Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentangnya : “Keutamaan ‘Aisyah atas seluruh wanita adalah seperti keutamaan tsarid atas semua jenis makanan” [selesai - Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah].

Tidak bisa dikatakan bahwa Al-Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah adalah seorang Raafidliy ketika beliau berkata :

ما اختلف أحد من الصحابة والتابعين في تفضيل أبي بكر وعمر وتقديمهما على جميع الصحابة

“Tidak ada perbedaan pendapat seorangpun dari kalangan shahabat dan tabi’in dalam pengutamaan Abu Bakr dan ‘Umar, serta mendahulukannya dari seluruh shahabat” [Manaaqibusy-Syaafi’iy lil-Baihaqiy, 1/434, tahqiq : Ahmad Shaqr].[6]

إن معاوية رضي الله عنه له فقه وعلم

“Sesungguhnya Mu’awiyyah radliyallaahu ‘anhu mempunyai kefaqihan dan ilmu” [Al-Umm, 4/87].

Telah menjadi satu kemakluman tentang syi’ar khas kaum Syi’ah Raafidlah untuk mengutamakan terhadap ‘Ali di atas Abu Bakr dan ‘Umar; serta hinaan/celaan mereka (bahkan pengkafiran) terhadap keduanya (Abu Bakr dan ‘Umar) serta Mu’awiyyah bin Abi Sufyan radliyallaahu ‘anhum.

Justru dalam banyak kesempatan, beliau rahimahullah mengeluarkan banyak celaan terhadap orang-orang Syi’ah Raafidlah (karena kesesatan mereka dalam agama). Diantaranya beliau berkata :

ما رأيت في أهل الأهواء قوما أشهد بالزور من الرافضة

“Aku tidak pernah melihat satu kaum dari pengikut hawa nafsu yang aku saksikan kedustaannya daripada Rafidlah” [Syarh Ushuulil-I’tiqaad Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah 8/1457 dan Siyaru A’laamin-Nubalaa’ 10/89, dari Ar-Rabii’. Dibawakan pula oleh Harmalah lafadh yang semisal dalam Aadaabusy-Syaafi’iy hal. 187, Al-Manaaqib lil-Baihaqiy 1/468, dan As-Sunan Al-Kubraa lil-Baihaqiy 10/208].

ما كلمتُ رجلاً في بدعةٍ؛ لا رجلاً كان يَتَشَيَّعُ

“Tidaklah aku berbicara kepada seseorang tentang bid’ah, kecuali ia cenderung mengarah kepada Syi’ah” [Aadaabusy-Syaafi’iy wa Manaaqibuhu li-Ibni Abi Haatim Ar-Raaziy, hal. 186].

عن البويطي يقول: سألت الشافعي: أصلي خلف الرافضي ؟ قال: لا تصل خلف الرافضي، ولا القدري، ولا المرجئ….

Dari Al-Buwaithiy ia berkata : “Aku bertanya kepada Asy-Syafi’iy : ‘Apakah aku boleh shalat di belakang seorang Rafidliy ?”. Beliau menjawab : “Janganlah engkau shalat di belakang seorang Rafidliy, Qadariy, dan Murji’” [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 10/31].

Taajuddin As-Subkiy rahimahullah berkata :

وروى الحافظ أبو الحسن بن حَكَمَان : أن الزعفراني، قال : قال الشافعِي في الرافضي يحضر الواقعة : “لا يعطى من الفيء شيئا؛ لأن الله تعالى ذكر آية الفيء، ثم قال : (وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ) الآية. فمن لم يقل بها لم يستحِق”.

“Al-Haafidh Abul-Hasan bin Hakamaan meriwayatkan : Bahwasannya Az-Za’faraniy berkata : Telah berkata Asy-Syafi’iy tentang seorang Rafidlah yang ikut serta dalam peperangan : “Tidak diberikan bagian harta fai’ sedikitpun, karena Allah ta’ala menyebutkan ayat fai’ dan setelah itu Ia berfirman : “Dan orang-orang yang datang setelah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa : ‘Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang te;ah beriman terlebih dahulu daripada kami” (QS. Al-Hasyr : 10). Barangsiapa yang tidak mengatakan hal itu, maka ia tidak berhak atas harta fai” [Thabaqaatusy-Syafi’iyyah Al-Kubraa lis-Subkiy, 1/117].

Wallaahu a’lam.

[selesai – oleh : aboe al-jaoezaa’ al-bogoriy, boelan radjab tahoen 1430 h].



[1] Diriwayatkan oleh Muslim dalam Fadlaailush-Shahaabah, Baab : Min Fadlaaili ‘Aliy bin Abi Thaalib, hadits no. 3408 dari musnad Zaid bin Arqam dengan siyaq (susunan) yang serupa dengan yang disebutkan mushannaf (Ibnu Katsir), namun ini bukan lafadhnya. Hadits ini mempunyai banyak syawaahid. Lihat selengkapnya dalam Ash-Shahiihah 4/355-361.

[2] Hadits ini dla’if. Sanadnya berporos pada ‘Aliy bin Zaid bin Abi Ziyaah, dan ia seorang yang dla’if yang hafalannya bercampur (ikhtilath) di akhir hayatnya. Terdapat idlthirab (kegoncangan) dalam hadits ini. Satu kali ia (‘Aliy bin Zaid) membawakannya dari musnad Al-Abbas, dan kali yang lain ia membawakan dari musnad ‘Abdul Muthallib bin Rabii’ah – dimana pada sebagian jalan, ia menamakannya dengan Al-Muthallib bin Rabi’ah.

Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad (1/207, 4/165) dan dalam Al-Fadlaail (no. 1757), At-Tirmidzi dalam Al-Manaaqib (no. 3708), An-Nasa’iy dalam Al-Kubraa (no. 8176), Al-Bazzaar (no. 316), Al-Haakim (3/332), Al-Khathiib dalam At-Taariikh (3/386) dari beberapa jalan, dari Yaziid bin Abi Ziyaad, dari ‘Abdullah bin Al-Haarits dengan sanad hadits di atas.

[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Manaaqib, Baab : Manaaqib Qurbati Rasulillah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (no. 3713), kemudia ia ulangi dalam Fadhlul-Hasan wal-Musain (no. 3751), dari jalan yang lain, dari Syu’bah.

[4] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Manaaqib, Baab : Manaaqib Qurbati Rasulillah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (no. 3712).

[5] Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asaakir dalam At-Taariikh 8/914 dari jalan Ibrahim bin Al-Muhaajir, dari Mujaahid, dari Ibnu ‘Abbas, ia berka : Telah berkata ‘Umar kepada Al-‘Abbas : “…..kemudian disebutkanlah lafadhnya…”.

[6] Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma mengenai posisi para shahabat atas permasalahan ini :

كنا نفاضل على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم أبو بكر ثم عمر ثم عثمان ثم نسكت

“Kami mengutamakan di jaman Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam : Abu Bakr, kemudian ‘Umar, kemudian ‘Utsman, kemudian kami diam” [Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban no. 7251, Ibnu Abi Syaibah 12/9, Ahmad 2/14, Ibnu Abi ‘Aashim no. 1195, dan Ath-Thabaraniy no. 13301; shahih].

Pengutamaan Abu Bakr dan ‘Umar atas ‘Ali radliyallaahum ajma’in merupakan ijma’ dari kalangan Ahlus-Sunnah. Bahkan ‘Ali sendiri mengatakan hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud :

عن محمد بن الحنفية قال: قلت لأبي: أيُّ الناس خير بعد رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم؟ قال: أبو بكر، قال: قلت: ثم من؟ قال: ثم عمر، قال: ثم خشيت أن أقول ثم من؟ فيقول عثمان، فقلت: ثم أنت يا أبتِ؟ قال: ما أنا إلا رجل من المسلمين.

Dari Muhammad bin Al-Hanafiyyah, ia berkata : Aku bertanya kepada ayahku (yaitu ‘Ali bin Abi Thaalib radliyalaahu ‘anhu) : “Siapakah manusia yang paling baik setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ?”. Beliau menjawab : “Abu Bakr”. Aku bertanya : “Kemudian siapa ?”. Beliau menjawab : “Kemudian ‘Umar”. Muhammad bin Al-Hanafiyyah berkata : “Kemudian aku takut untuk mengatakan kemudian siapa (setelah ‘Umar). Namun kemudian beliau berkata : “Kemudian ‘Utsman”. Aku kembali bertanya : “Kemudian setelah itu engkau wahai ayahku ?”. Beliau menjawab : “Aku hanyalah seorang laki-laki dari kalangan kaum muslimin” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 4629; shahih].

Jun 30

Al-Qaadliy Abu Bakr Al-Baqillaniy : Allah Berada di Atas ‘Arsy

Siapakah Abu Bakr Al-Baqillaniy ?

Beliau adalah Al-Qaadliy Abu Bakr Al-Baqillaniy rahimahullah, dilahirkan sekitar pertengahan abad keempat hijriah dan wafat pada tahun 403 H di Baghdad. Beliau adalah seorang ulama madzhab Asy’ariyyah generasi awal yang terkemuka dan banyak dipuji sebagai ‘bintang’ di kalangan mereka. Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa beliau telah kembali ke ‘aqidah salaf pada akhir hayat beliau. Alhamdulillahi rabbil-‘aalamiin.

Banyak tulisan yang telah dihasilkannya. Salah satunya adalah At-Tamhiid Al-Awaa’ili wa Talkhiishud-Dalaail, sebuah buku yang mengupas tentang masalah ‘aqidah. Dalam manuskrip yang ditemukan di Paris (Perancis), buku ini berjudul : At-Tamhiid fii Ar-Radd ‘alal-Mulhidah war-Raafidlah wal-Khawaarij wal-Mu’tazillah.

Dimanakah Allah ?

Al-Qaadliy Abu Bakr Al-Baqillaniy berkata :

Bab : Apabila ada seseorang yang bertanya : “Dimanakah Allah ?”. Dikatakan kepadanya : “Pertanyaan ‘dimana’ adalah pertanyaan yang menyangkut tempat, dan Dia tidak boleh dilingkupi oleh satu tempat. Tidak pula satu tempat bisa meliputi-Nya. Namun, kita hanya boleh mengatakan (atas pertanyaan itu) : ‘Dia berada di atas ‘Arsy-Nya’, dimana hal itu tidak berkonsekuensi makna wujud badan (jism) yang bersentuhan dan berbatasan/berdekatan. Maha Tinggi (Allah) dari atas semua itu dengan setinggi-tinggi dan seagung-agung-Nya !” [At-Tamhiid, hal. 300-301].

Faedah yang dapat kita ambil dari perkataan Al-Baqillaniy rahimahullah di atas antara lain :

1. Penegasan Allah berada di atas ‘Arsy, yang dalam waktu bersamaan terdapat penafikkan bahwa Allah dilingkupi atau berada di dalam tempat tertentu. Oleh karena itu, di sini Al-Baqillaniy telah menggabungkan dua pernyataan sekaligus : Allah berada di atas ‘Arsy dan menafikkan dilingkupi oleh satu tempat.

2. Penegasan Al-Baqillani bahwa Allah berada di atas ‘Arsy itu tanpa perlu mengkonsekuensikan Dia mempunyai badan (jism) – seperti makhluk.

3. Ketika muncul pertanyaan : ‘Dimana Allah ?’, Al-Baqillani hanya mencukupkan dengan jawaban : “Dia berada di atas ‘Arsy”, tanpa mengkaitkan (atau men-takyif) hal-hal yang berkaitan dengan makhluk.

Wallaahu a’lam bish-shawwaab.

Jun 30

MENGANGKAT TANGAN BERSAMAAN ATAU SETELAH MENGUCAPKAN TAKBIR ?

Tanya : Kapan seseorang mengangkat tangan pada waktu takbiratul-ihram ? bersamaan dengan mengucapkan allaahu akbar atau setelahnya ?

Jawab : Dua cara yang Anda sebutkan tersebut boleh dilakukan. Bahkan ada satu cara lain yang juga boleh dilakukan yaitu mengangkat tangan sebelum mengucapkan allahu akbar (takbir pada takbiratul-ihram).

Dalil atas ketiga cara tersebut adalah :

أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَر رَضِىَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَتَحَ التَّكْبِيْر فِي الصَّلاَةِ فَرَفَعَ يَدَيْهِ حِيْنَ يُكَبِّرُ حَتَّى يَجْعَلهُمَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ

Bahwasannya ‘Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma berkata : “Aku melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memulai shalat dengan takbir. Maka beliau mengangkat kedua tangannya ketika (bersamaan) takbir setinggi kedua pundaknya” [HR. Al-Bukhari no. 738].

أَنَّ بْنَ عُمَرَ قَالَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ لِلصَّلاَةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى تَكُوْنَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ كَبَّرَ

Bahwasannya Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma berkata : “Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila berdiri untuk shalat, maka beliau mengangkat kedua tangannya setinggi kedua pundaknya, kemudian beliau bertakbir” [HR. Muslim no. 390].

عن أبي قلابة أَنَه رَأَى مَالِكَ بْنَ الْحُوَيْرِثِ إِذَا صَلَّى كَبَّرَ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوْعِ رَفَعَ يَدَيْهِ وَحَدَّثَ أَنَّ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَفْعَلُ هَكَذَا

Dari Abu Qilabah : ”Bahwasannya ia melihat Malik bin Al-Huwairits apabila ia melakukan shalat, maka ia bertakbir kemudian mengangkat kedua tangannya. Dan apabila ia hendak rukuk, maka ia mengangkat kedua tangannya. Apabila ia mengangkat kepalanya dari rukuk (i’tidal), maka ia mengangkat kedua tangannya. Ia mengatakan bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukan demikian (dalam shalat)” [HR. Al-Bukhari no. 737 dan Muslim no. 391].

Ketiga cara tersebut menunjukkan variasi tata cara shalat yang dilakukan oleh beliau shallallaahu ’alaihi wa sallam, dimana terkadang beliau melakukan begini dan terkadang melakukan begitu. Perbedaan/khilaf semacam ini dalam ilmu fiqh disebut khilaf tanawwu’ yang tidak perlu dipertentangkan satu dengan yang lainnya. Wallaahu a’lam bish-shawwab.

[Abu Al-Jauzaa’ – beberapa jam menjelang pagi di satu hari awal bulan Rajab 1430 H].

Jun 29

Ittiba’ kepada Dalil Bukan Berarti Meninggalkan Perkataan Para ‘Ulama !!

Sebagian penyeru taqlid beranggapan bahwa ajakan untuk berittiba’ kepada dalil (nash Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’) mengkonsekuensikan untuk meninggalkan dan tidak memperdulikan seluruh perkataan ulama madzhab secara mutlak. Anggapan ini keliru.

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah telah membantahnya dengan jawaban yang sangat bagus sebagai berikut :

إن هذا الزعم أبعد ما يكون عن الصواب بل هو باطل ظاهر البطلان كما يبدو ذلك جليا من الكلمات السابقات فإنها كلها تدل على خلافه وأن كل الذي ندعو إليه إنما هو ترك اتخاذ المذاهب دينا ونصبها مكان الكتاب والسنة بحيث يكون الرجوع إليها عند التنازع أو عند إرادة استنباط أحكام لحوادث طارئة كما يفعل متفقهة هذا الزمان وعليه وضعوا الأحكام الجديدة للأحوال الشخصية والنكاح والطلاق وغيرها دون أن يرجعوا فيها إلى الكتاب والسنة ليعرفوا الصواب منها من الخطأ والحق من الباطل وإنما على طريقة ( اختلافهم رحمة ) وتتبع الرخص والتيسير أو المصلحة – زعموا – وما أحسن قول سليمان التيمي رحمه الله تعالى :
(إن أخذت برخصة كل عالم اجتمع فيك الشر كله)
رواه ابن عبد البر ( 2 / 91 – 92 ) وقال عقبة :
( هذا إجماع لا أعلم فيه خلافا )
فهذا الذي ننكره وهو وفق الإجماع كما ترى
وأما الرجوع إلى أقوالهم والاستفادة منها والاستعانة بها على تفهم وجه الحق فيما اختلفوا فيه مما ليس عليه نص في الكتاب والسنة أو ما كان منها بحاجة إلى توضيح فأمر لا ننكره بل نأمر به ونحض عليه لأن الفائدة منه مرجوة لمن سلك سبيل الاهتداء بالكتاب والسنة.

قال العلامة ابن عبد البر رحمه الله تعالى ( 2 / 172 ) :
( فعليك يا أخي بحفظ الأصول والعناية بها واعلم أن من عني بحفظ السنن والأحكام المنصوصة في القرآن ونظر في أقاويل الفقهاء – فجعله عونا له على اجتهاده ومفتاحا لطرائق النظر وتفسيرا لجمل السنن المحتملة للمعاني – ولم يقلد أحدا منهم تقليد السنن التي يجب الانقياد إليها على كل حال دون نظر ولم يرح نفسه مما أخذ العلماء به أنفسهم من حفظ السنن وتدبرها واقتدى بها في البحث والتفهم والنظر وشكر لهم سعيهم فيما أفادوه ونبهوا عليه وحمدهم على صوابهم الذي هو أكثر أقوالهم ولم يبرئهم من الزلل كما لم يبرؤوا أنفسهم منه فهذا هو الطالب المتمسك بما عليه السلف الصالح وهو المصيب لحظه والمعاين لرشده والمتبع لسنة نبيه صلى الله عليه وسلم وهدي صحابته رضي الله عنهم
ومن أعف نفسه من النظر وأضرب عما ذكرنا وعارض السنن برأيه ورام أن يردها إلى مبلغ نظره فهو ضال مضل ومن جهل ذلك كله أيضا وتقحم في الفتوى بلا علم فهو أشد عمى وأضل سبيلا ).

فهذا هو الحق ما به خفاء فدعني عن بنيات الطريق

“Anggapan ini jauh sekali dari kebenaran. Bahkan ia merupakan kebathilan yang sangat nyata, sebagaimana hal itu tampak jelas dari kalimat-kalimat yang telah lalu. Semuanya itu menunjukkan kebalikannya. Sesungguhnya semua yang kami serukan hanyalah ajakan meningalkan madzhab-madzhab untuk dijadikan sebuah dien yang menggantikan kedudukan Al-Kitab dan As-Sunnah, serta menjadikannya tempat kembali ketika ada perselisihan atau tempat ber-istinbath (menyimpulkan hukum) terhadap berbagai peristiwa yang baru, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang baru belajar fiqh (pemula) di jaman ini. Mereka bersandar kepada madzhab-madzhab tersebut dalam meletakkan berbagai hukum baru yang terkait dengan ahwaal syakhsiyyah (perkara perdata), nikah, thalaq, dan yang lainnya; tanpa mengembalikannya kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk mengetahui yang benar dan yang salah, atau yang haq dan yang bathil. Mereka hanya mendasarkan perbuatan mereka dengan teori “ikhtilaaf itu adalah rahmat”. Lalu mereka mengikuti berbagai rukhshah (keringanan), taisir (kemudahan), atau mashlahat – yang mereka anggap. Oleh karena itu, sungguh tepat apa yang dikatakan Sulaiman At-Taimiy rahimahullahu ta’ala :

“Apabila engkau mengambil keringanan (rukhshah) dari setiap orang ‘alim, maka terkumpullah padamu setiap keburukan”.

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil-Barr (2/91-92). Kemudian ia berkomentar :

“Ini adalah satu ijma’ yang tidak aku ketahui adanya perselisihan di dalamnya”.

Inilah yang kami ingkari, dimana hal itu berkesesuaian dengan ijma’ sebagaimana yang engkau lihat.

Adapun ruju’ (kembali) kepada perkataan mereka (para ulama), mengambil faedah dalam memahami sisi kebenaran dari apa yang mereka perselisihkan yang tidak ada nash-nya pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, atau dalam rangka memahami sesuatu yang membutuhkan penjelasan; maka hal itu sama sekali tidak kami ingkari. Bahkan kami turut memerintahkannya dan menganjurkannya, karena faedah yang ada padanya diharapkan oleh orang yang menempuh jalan petunjuk dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Al-‘Allamah Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullahu ta’ala berkata (2/172) :

“Wajib bagimu – wahai saudaraku – untuk menjaga dan memperhatikan ushul (prinsip) ini. Ketahuilah, bahwa orang-orang yang menjaga sunnah-sunnah dan hukum-hukum yang di-nash-kan dalam Al-Qur’an, dan melihat berbagai perkataan fuqahaa’ – yang kemudian ia jadikan sebagai penolong dalam ijtihadnya, pembuka jalan-jalan penelitiannya, dan penjelas sunnah-sunnah yang mempunyai berbagai kemungkinan makna – tanpa bersikap taqlid kepada seorang pun di antara mereka sebagaimana layaknya ia ‘bertaqlid’ kepada nash-nash As-Sunnah yang memang wajib diikuti dalam segala keadaan tanpa banyak pertimbangan/penelitian; tidak merasa puas dengan apa yang telah diambil, dihafal, dan diperhatikan para ulama; mengikuti mereka (para ulama) dalam pemahaman, pembahasan, dan penelitian; berterima kasih kepada mereka atas berbagai faedah yang diberikan dan berbagai peringatan mereka; serta memuji mereka atas kebenaran yang mendominasi perkataan mereka; serta tidak membebaskan mereka dari segala kesalahan/ketergelinciran sebagaimana mereka tidak membebaskan hal itu pada diri mereka sendiri; maka dia adalah penuntut ilmu yang berpegang teguh dengan apa yang as-salafush-shaalih berada di atasnya. Dia adalah orang yang benar dalam hal penjagaannya (terhadap agama), saksi atas petunjuk Allah bagi dirinya, dan muttabi’ (orang yang mengikuti) atas sunnah Nabinya shallallaahu ‘alaihi wa sallam serta para shahabatnya radliyallaahu ‘anhum.

Barangsiapa memaafkan dirinya untuk melakukan penelitian, menyimpang dari apa yang telah kami sebutkan, serta berpaling dari sunnah-sunnah kepada akalnya dan bermaksud mengembalikannya kepada kadar pandangannya; maka ia adalah orang yang sesat dan menyesatkan. Dan barangsiapa yang tidak mengetahui semua itu dan mencela fatwa tanpa ada pengetahuan, maka ia adalah orang yang lebih buta dan lebih sesat jalannya”.

Inilah kebenaran yang tidak ada kesamaran

Biarkan aku berada dalam jalan yang terang

[selesai – Lihat : Shifat Shalat Nabi minat-Takbiiri ilat-Tasliimi Ka-annaka Taraahaa, hal. 69-70; Maktabah Al-Ma’aarif, Cet. 2/1996 M, Riyadl].

Semoga bermanfaat….

[Ditulis oleh Abu Al-Jauzaa’ Al-Bogoriy, 6 Rajab 1430 H, Perumahan Ciomas Permai, Bogor - Supported by : Ummu Humaid Al-Atsariyyah].

Jun 29

Ciri-Ciri Ahli Bid’ah

Oleh : Abu ‘Utsmaan Ismaa’iil bin ‘Abdirrahmaan Ash-Shaabuuniy rahimahullaah

(373 – 449 H)

Ada baiknya jika saya tuliskan sedikit pemaparan biografi Al-Imam Abu ‘Utsman Ash-Shaabuuniy rahimahullah.

“Beliau adalah Abu ‘Utsmaan Ismaa’iil bin ‘Abdirrahmaan bin Ahmad bin Ismaa’iil bin ‘Aamir bin ‘Aabid Ash-Shaabuuniy An-Naisaabuuriy, Al-Haafidh, Al-Mufassir, Al-Muhadiits, Al-Faqiih, Al-Mulaqqib, Syaikhul-Islaam. Lafadh ‘Ash-Shaabuuniy’ dinisbatkan kepada pekerjaan beliau sebagai pembuat/pedagang sabun, sebagaimana disebutkan oleh As-Sam’aaniy rahimahullah dalam kitab Al-Ansaab.

Dilahirkan pada pertengahan bulan Jumadil-Akhir 373 H.

Diantara guru beliau rahimahullah yang terkenal adalah :

1. Al-Haakim An-Naisaburiy, Abu ‘Abdillah – penulis kitab Al-Mustadrak ‘alash-Shahihain.

2. Abi Thaahir Muhammad bin Al-Fadhl bin Muhammad bin Ishaaq bin Khuzaimah.

3. Abu Muhammad Al-Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Mikhlad Asy-Syaibaniy An-Naisaburiy.

4. Abul-Hasan Ahmad bin Muhammad bin ‘Umar Az-Zaahid.

5. Dan yang lainnya.

Adapun murid-murid beliau rahimahullah yang terkenal antara lain :

1. Abul-Qaasim ‘Aliy bin Muhammad bin ‘Aliy bin Ahmad bin Abil-‘Alaa’ As-Sulamiy Al-Mushiishiy Al-Faqiih Asy-Syaafi’iy; seorang faqih lagi tsiqah.

2. Abu Shaalih Al-Muadzdzin Ahmad bin ‘Abdil-Malik bin ‘Aliy bin Ahmad An-Naisaburiy Al-Haafidh.

3. Abu Muhammad ‘Abdil-‘Aziiz bin Ahmad bin Muhammad At-Taimiy Ad-Dimasyqiy Al-Kattaaniy; seorang imam, muhaddits, lagi mutqin.

4. Dan yang lainnya.

Pujian ulama terhadap beliau rahimahullah :

1. Al-Imam Abu Bakr Al-Baihaqiy rahimahullah :

إنه إمام المسلمين حقاً وشيخ الإسلام صدقاً ، وأهل عصره كلهم مذعنون لعلو شأنه في الدين والسيادة وحسن الاعتقاد وكثرة العلم ولزوم طريقة السلف

“Beliau adalah imam kaum muslimin yang sebenar-benarnya, seorang Syaikhul-Islam sejati. Semua orang di masanya mengakui ketinggian beliau dalam agama, kemuliaannya, kebaikan ‘aqidahnya, keluasan ilmunya, dan kesungguhannya dalam hal kewajiban meniti jalan salaf”.

2. Al-Imam Ibnu Naashiruddin rahimahullah :

كان إماماً حافظاً عمدة مقدماً في الوعظ والأدب وغيرهما من العلوم وحفظة للحديث وتفسير القرآن

“Beliau adalah seorang imam, haafidh, seorang pemimpin yang didahulukan dalam nasihat, adab, dan yang lainnya pada bidang ilmu, hafalan hadits, serta tafsir Al-Qur’an”.

3. Al-Haafidh Adz-Dzahabiy rahimahullah :

الواعظ، المفسر، المصنف، أحد الأعلام، كان شيخ خرسان في زمانه.

“Ahli pemberi nasihat, mufassir, dan penulis. Beliau juga salah seorang tokoh terkemuka, sekaligus penghulu ulama Khurasan”.

Beliau wafat pada bulan Muharram tahun 449 H.

[selesai]

Adapun penjelasan mengenai ciri-ciri Ahlul-Bid’ah sebagaimana tercantum dalam kitab beliau yang berjudul : ‘Aqiidatus-Salaf Ashhaabil-Hadiits adalah sebagai berikut :

١٦٢ – وعلامات البدع على أهلها بادية ظاهرة ، وأظهر آياتهم وعلاماتهم : شدة معاداتهم محملة أخبار النبي – صلى الله عليه وسلم- ، واحتقارهم لهم [واستخفافهم بهم] ، وتسميتهم إياهم حشوية ، وجهلة ، وظاهرية ، ومشبهه . اعتقادا منهم في أخبار رسول الله – صلى الله عليه وسلم- أنها بمعزل عن العلم ، وأن العلم ما يلقيه الشيطان إليهم من نتائج عقولهم الفاسدة ، ووساوس صدورهم المظلمة ، وهو أجس قلوبهم الخالية من الخير ، [وكلماتهم] وحججهم بل شبههم الداحضة الباطلة. (أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ). (وَمَن يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِن مُّكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاء).

162 – Dan ciri-ciri yang dimiliki oleh Ahli Bid’ah itu amatlah jelas dan terang. Yang paling menonjol di antaranya adalah : Besarnya antipati mereka terhadap para pembawa riwayat hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, melecehkan mereka, [merendahkan mereka], bahkan menggelari mereka sebagai hasyawiyyah (tukang hapal catatan kaki), orang-orang jahil, dhahiriyyah (tekstual), dan musyabbihah. Semua itu didasari keyakinan mereka bahwa hadits-hadits Rasulullah shallalaahu ‘alaihi wa sallam itu terpisah dari ilmu. Dan ilmu (menurut mereka) adalah apa-apa yang dijejalkan setan kepada mereka, hasil dari olah akal mereka yang rusak, waswas dari hati mereka yang gelap, imajinasi mereka yang hampa dari kebenaran, serta [berbagai kalimat] dan hujjah mereka yang lemah dan bathil. Allah telah berfirman : “Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka” (QS. Muhammad : 23). “Dan barang siapa yang dihinakan Allah maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki” (QS. Al-Hajj : 18).

١٦٣ – سمعت الحاكم أبا عبد الله الحافظ يقول : سمعت أبا على الحسين بن علي الحافظ يقول ، سمعت جعفر بن أحمد بن سنان الواسطي يقول ، سمعت أحمد بن سنان القطان يقول : (ليس في الدنيا مبتدع إلا وهو يبغض أهل الحديث ، فإذا ابتدع الرجل نزعت حلاوة الحديث من قلبه) .

163 – Aku mendengar Al-Haakim Abu ‘Abdillah Al-Haafidh berkata : Aku mendengar Abu ‘Aliy Al-Husain bin ‘Aliy Al-Haafidh berkata : Aku mendengar Ja’far bin Ahmad bin Sinaan Al-Waasithiy berkata : Aku mendengar Ahmad bin Sinaan Al-Qaththaan berkata : “Tidak ada seorang mubtadi’ di dunia ini kecuali ia membenci Ahlul-Hadits. Karena bila ada seorang yang berbuat bid’ah, maka akan dicabut manisnya ilmu hadits dalam hatinya”.

١٦٤ – وسمعت الحاكم يقول سمعت أبا الحسين محمد بن أحمد الحنظلي ببغداد يقول ، سمعت [أبا إسماعيل] محمد بن إسماعيل الترمذي يقول : كنت أنا وأحمد بن الحسن الترمذي عند إمام الدين أبي عبد الله أحمد بن حنبل ؛ فقال له أحمد بن الحسن : يا أبا عبد الله ذكروا لابن أبي قتيلة بمكة أصحاب الحديث فقال : أصحاب الحديث قوم سوء فقام أحمد بن حنبل وهو ينفض ثوبه ويقول : زنديق ! زنديق ! [زنديق] : حتى دخل البيت .

164 – Aku (Abu ‘Utsman Ash-Shaabuniy) mendengar Al-Haakim berkata : Aku mendengar Abu Al-Husain Muhammad bin Ahmad Al-Handhaliy berkata di Baghdaad : Aku mendengar [Abu Isma’il] Muhammad bin Isma’il At-Tirmidziy berkata : “Aku dan Ahmad bin Al-Hasan At-Tirmidziy pernah berada di sisi Imaamuddiin Abu ‘Abdillah Ahmad bin Hanbal. Maka Ahmad bin Al-Hasan berkata kepadanya : ‘Wahai Abu ‘Abdillah, orang-orang pernah menyebut Ahli Hadits di hadapan Ibnu Abi Qutailah. Maka ia (Ibnu Abi Qutailah) berkata : ‘Para Ahli Hadits (Ashhaabul-Hadiits) adalah satu kaun yang jelek’. Maka Ahmad bin Hanbal berdiri sambil mengibaskan pakaiannya seraya berkata : ‘Zindiq, zindiq, [zindiq] !’, hingga ia masuk rumah”.

١٦٥ – وسمعت الحاكم أبا عبد الله يقول ، سمعت أبا نصر أحمد بن سهل الفقيه ببخارى يقول ، سمعت أبا نصر بن سلام الفقيه يقول:(ليس شيء أثقل على أهل الإلحاد ، ولا أبغض إليهم من سماع الحديث وروايته بإسناده ).

165 – Aku mendengar (Abu ‘Utsman Ash-Shaabuniy) Al-Haakim Abu ‘Abdillah berkata : Aku mendengar Abu Nashr Ahmad bin Sahl, seorang faqih negeri Bukhara, berkata : Aku mendengar Abu Nashr bin Salaam Al-Faqiih berkata : “Tidak ada satu hal yang lebih berat dan dibenci oleh Ahlul-Ilhaad (pengingkar/atheis/Ahli Bid’ah) daripada mendengarkan hadits dan meriwayatkan dengan sanadnya”.

١٦٦ – وسمعت الحاكم يقول : سمعت الشيخ أبا بكر أحمد بن إسحاق بن أيوب الفقيه – وهو يناظر رجلاً – فقال الشيخ أبو بكر : حدثنا فلان ، فقال له الرجل : دعنا من حدثنا إلى متى حدثنا ؟ فقال الشيخ له : قم يا كافر ، فلا يحل لك أن تدخل داري بعد هذا أبداً. ثم التفت إلينا وقال : ما قلت [قط] لأحد قط ما تدخل داري إلا هذا.

166 – Aku (Abu ‘Utsman Ash-Shaabuniy) mendengar Al-Haakim berkata : Aku mendengar Asy-Syaikh Abu Bakr Ahmad bin Ishaaq bin Ayyuub Al-Faqiih – saat itu ia tengah berdebat dengan seorang laki-laki – . Maka berkatalah Asy-Syaikh Abu Bakr : “Haddatsanaa Fulaan (Telah menceritakan kepada kami Fulan)”. Laki-laki tersebut berkata kepadanya : “Tinggalkan kami dari perkataan haddatsanaa. Sampai kapan kita menyebut haddatsanaa ?”. Syaikh Abu Bakr berkata : “Berdirilah wahai kafir ! Tidak halal bagimu untuk memasuki rumahku setelah ini untuk selamanya”. Kemudian ia (Asy-Syaikh Abu Bakr) menoleh kepada kami dan berkata : “Aku tidak pernah berkata pada seorang pun untuk tidak masuk ke rumahku kecuali pada orang ini”.

١٦٧ – سمعت [الأستاذ] أبا منصور محمد بن عبد الله ابن حمشاد العالم الزاهد [رحمه الله] يقول ، سمعت أبا القاسم جعفر بن أحمد المقرى الرازي يقول : قرئ على عبد الرحمن بن أبي حاتم الرازي وأنا أسمع : سمعت أبي يقول – عنى به الإمام في بلده أبا حاتم محمد بن إدريس الحنظلي الرازي – يقول : ( علامة أهل البدع الوقيعة في أهل الأثر وعلامة الزنادقة : تسميتهم أهل الأثر حشوية ، يريدون بذلك إبطال الآثار . وعلامة القدرية : تسميتهم أهل السنة مجبرة . وعلامة الجهمية : تسميتهم أهل السنة مشبهة . وعلامة الرافضة : تسميتهم أهل الأثر نابتة وناصبة .

167 – Aku (Abu ‘Utsman Ash-Shaabuniy) mendengar [Al-Ustadz] Abu Manshuur Muhammad bin ‘Abdillah bin Himsyaad Al-’Aalim Az-Zaahid [rahimahullah] berkata : Aku mendengar Abul-Qaasim Ja’far bin Ahmad Al-Muqriy Ar-Raaziy berkata : Pernah dibacakan kepada ‘Abdurrahman bin Abi Haatim Ar-Raaziy, dan waktu itu aku mendengarkannya : Aku mendengar ayahku berkata – yang dimaksudkan adalah penghulu ulama di negerinya, yaitu Abu Haatim Muhammad bin Idriis Al-Handhaliy Ar-Raaziy berkata – : “Tanda-tanda Ahli Bid’ah adalah mencela Ahlul-Atsar. Tanda-tanda Zanaadiqah adalah penamaan mereka terhadap Ahlul-Atsar dengan Hasyawiyyah. Mereka memaksudkan hal itu untuk membatalkan/menolak atsar. Tanda-tanda Qadariyyah adalah penamaan mereka terhadap Ahlus-Sunnah dengan Mujabbirah (=Jabriyyah, golongan yang hanya bergantung kepada taqdir). Tanda-tanda Jahmiyyah adalah penamaan mereka kepada Ahlus-Sunnah dengan Musyabbihah. Dan tanda-tanda Raafidlah adalah penamaan mereka kepada Ahlul-Atsar dengan Naabitah serta Naashibah”.

١٦٨ – قلت : وكل ذلك عصبية ، ولا يلحق أهل السنة إلا اسم واحد ؛ وهو أهل الحديث

168 – Aku (Abu ‘Utsman Ash-Shaabuniy) berkata : “Semuanya itu dikarenakan ashabiyyah (fanatisme golongan). Tidak ada sebutan yang pantas bagi Ahlus-Sunnah melainkan satu saja, yaitu : Ahlul-Hadiits”.

١٦٩ – قلت : أنا رأيت أهل البدع في هذه الأسماء التي لقبوا بها أهل السنة – [ولا يلحقهم شيء منها فضلا من الله ومنة] - ؛ سلكوا معهم مسلك المشركين [لعنهم الله] مع رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فإنهم أقتسموا القول فيه : فسماه بعضهم ساحراً وبعضهم كاهنا وبعضهم شاعراً وبعضهم مجنوناً وبعضهم مفتوناً وبعضهم مفتريا مختلقاً كذاباً ، وكان النبي – صلى الله عليه وسلم – من تلك المعائب بعيداً بريئاً ، ولم يكن إلا رسولاً مصطفى نبياً ، قال الله عز وجل : (انظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الأَمْثَالَ فَضَلُّوا فَلاَ يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلاً ).

169 – Aku (Abu ‘Utsman Ash-Shaabuniy) berkata : “Aku memandang para Ahli Bid’ah dalam penamaan ini yang kemudian mereka gelarkan dengannya kepada Ahlus-Sunnah – [namun dengan karunia dan keutamaan Allah, tidak sedikitpun yang pantas disandarkan kepada mereka] adalah mengikuti jalan kaum musyrikin [semoga Allah melaknat mereka] terhadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Mereka membagi-bagi perkataan di dalamnya. Sebagian mereka menamakan beliau dengan tukang sihir, sebagian lagi dengan dukun, sebagian lagi dengan tukang syair, sebagian lagi dengan orang gila, sebagian lagi dengan orang yang terfitnah, sebagian lagi dengan pembual, orang yang mengada-ada, lagi pendusta. Padahal Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dan jauh dari segala aib tersebut. Beliau hanyalah seorang Rasul dan Nabi yang terpilih. Allah ‘azza wa jalla telah berfirman : ‘Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perbandingan-perbandingan tentang kamu, lalu sesatlah mereka, mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan (untuk menentang kerasulanmu)’ (QS. Al-Furqaan : 9)”.

١٧٠ – وكذلك المبتدعة خذلهم الله اقتسموا القول في حملة أخباره ، ونقله أثاره ، ورواة أحاديثه المقتدين بسنته [المعروفين بأصحاب الحديث]، فسماهم بعضهم حشوية ، وبعضهم مشبهة ، وبعضهم نابتة ، وبعضهم ناصبة وبعضهم جبرية. وأصحاب الحديث عصامة من هذه المعائب بريئة ، زكية نقية ، وليسوا إلا أهل السنة المضية ، والسيرة المرضية ، والسبل السوية ، والحجج البالغة القوية ، قد وفقهم الله جل جلاله لإتباع كتابه ، ووحيه وخطابه [واتباع أقرب أوليائه] ، والاقتداء برسوله – صلى الله عليه وسلم – في أخباره ، التي أمر فيها أمته بالمعروف من القول والعمل ، وزجرهم فيها عن المنكر منها ، وأعانهم على التمسك بسيرته ، والاهتداء بملازمة سنته ، [وجعلهم من أتباع أقرب أوليائه - وأكرمهم وأعزهم عليه] وشرح صدورهم لمحبته ، ومحبة أئمة شريعته ، وعلماء أمته .

ومن أحب قوماً فهو منهم يوم القيامة يحكم [قول] رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : ( المرء مع من أحب ) …

170 – Demikian pula dengan Mubtadi’ (Ahli Bid’ah) – semoga Allah tidak menolong mereka – membagi-bagi perkataan kepada para pembawa khabar (hadits), penukil atsar, perawi hadits yang mengikuti sunnah-sunnah beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam [yang dikenal dengan nama Ashhaabul-Hadiits]. Sebagian Ahli Bid’ah menamakan mereka dengan Hasyawiyyah, sebagian lagi dengan Musyabbihah, sebagian lagi dengan Naabitah, sebagian lagi dengan Naashibah, dan sebagian lagi dengan Jabriyyah. Padahal Ashhaabul-Hadiits terbebas, berlepas diri, dan bersih dari segala macam aib/cela ini. Tidak ada sebutan bagi mereka kecuali pengikut sunnah yang terang, perjalanan yang diridlai, jalan kehidupan yang lurus, dan hujjah yang terang lagi kuat. Sungguh Allah jalla jalaaluhu telah menguatkan mereka untuk mengikuti (ittiba’) Kitab-Nya, wahyu-Nya, dan firman-Nya; [mengikuti jejak para wali-Nya], meneladani Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap khabar beliau sebagaimana diketahui bahwa hal itu beliau perintahkan kepada umatnya dalam perkataan maupun perbuatan, serta mencegah mereka untuk berbuat kemunkaran. Allah juga menolong mereka untuk dapat berpegang teguh pada perjalanan hidup beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, meneladani dan konsekuen pada sunnah-sunnah beliau. [Dan Allah pun menjadikan siapa saja yang mengikuti syari’at-Nya sebagai wali-wali-Nya yang paling dekat - yang paling mulia dan terhormat]. Allah juga melapangkan dada mereka untuk mencintai beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, para imam/pemimpin syari’at-Nya, dan para ulama umat. Barangsiapa yang mencintai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka di hari kiamat kelak, dengan dasar [sabda] Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Seseorang itu bersama orang yang ia cintai’ “.

[Selesai].

Bahan bacaan :

1. ‘Aqiidatus-Salaf Ashhaabil-Hadiits oleh Abu ‘Utsman Ash-Shaabuniy, hal. 116-120, tahqiq : Badr bin ‘Abdillah Al-Badr; Maktabah Al-Ghurabaa’ Al-Atsariyyah, Cet. 2/1415 H, Madinah].

2. Syarh ‘Aqiidatis-Salaf wa Ashhaabil-Hadiits li-Abi ‘Utsman Ash-Shaabuniy oleh Dr. Khaalid bin ‘Aliy Al-Musyaiqih – www.Almoshaiqeh.com.

3. Aqidah Salaf Ashabul-Hadits, terjemah oleh : Abu Umar Basyir Al-Maidani, hal. 184-194; Pustaka At-Tibyan, Solo].

[Ditulis oleh Abu Al-Jauzaa’ Al-Jawiy – pekan pertama bulan Rajab 1430 H].